Makalah Genre Teks Akademik

Unduh sebagai docx, pdf, atau txt
Unduh sebagai docx, pdf, atau txt
Anda di halaman 1dari 16

MENGEKSPLORASI TEKS AKADEMIK

DALAM GENRE MAKRO

A. Membangun Teks Akademik secara Bersama-sama


1. Menggali dan Mengevaluasi Lebih Jauh Ciri-ciri Teks Akademik
Teks-teks akademik yang dipilih untuk pembahasan pada buku ini adalah ulasan buku, proposal,
laporan, dan artikel ilmiah Meskipun setiap genre makro itu mempunyai ciri-ciri khusus, secara umum
teks akademik dalam berbagai genre makro mempunyai ciri-ciri yang sama. Pada bagian ini, secara
bersama-sama Anda akan menggali sekaligus mengevaluasi lebih jauh lagi ciri-ciri itu, serta menyajikan
teks akademik dalam berbagai genre makro dan membangun argumen yang terbentuk di dalam masing-
masing genre tersebut. Ciri-ciri lebih jauh lagi dapat anda cermati poin-poin yang disajikan pada Tabel 1.2
beserta pembahasan yang menyertai selanjutnya.

Tabel 1. Perbedaan antara teks akademik dan nonakademik


Teks akademik (tulis, ilmiah) Teks nonakademik (lisan, nonilmiah)

1 sederhana dalam hal struktur kalimat; 1 rumit dalam struktur kalimat;


2 padat informasi; 2 cenderung tidak padat informasi;
3 padat akan kata-kata leksikal; 3 padat akan kata-kata struktural;
4 banyak memanfaatkan nominalisasi; 4 cenderung sedikit memanfaatkan nomi-
nalisasi;
5 banyak memanfaatkan 5 cenderung sedikit memanfaatkan
metafora gramatika, dan karenanya metafora gramatika, dan karenanya
banyak mengandung ungkapan yang tidak banyak mengandung ungkapan
in- kongruen; yang inkongruen;
6 banyak memanfaatkan istilah teknis; 6 cenderung sedikit memanfaatkan istilah
teknis;
7 bersifat taksonomik dan abstrak; 7 lebih konkret dan cenderung tidak
bersifat taksonomik;

8 banyak memanfaatkan sistem peng- 8 tidak menunjukkan pengacuan esfora


acuan esfora; sebagai ciri penting;

9 banyak memanfaatkan proses 9 tidak menonjol pada salah satu jenis


relasional identifikatif untuk membuat proses;
definisi atau identifikasi dan proses
relasional atributif untuk membuat
deskripsi;

10 bersifat monologis, dan untuk itu, lebih 10 bersifat dialogis, dan untuk itu,
banyak mendayagunakan jenis kalimat mendayagunakan jenis kalimat yang
indikatif-deklaratif; lebih bervariasi;

11 memanfaatkan bentuk pasif untuk 11 memberikan tekanan kepada pelaku


memberikan tekanan kepada pokok dalam peristiwa dialog; sehingga
persoalan yang dikemukakan, bukan pelaku peristiwa yang menjadi lebih
kepada pelaku; dan akibatnya, teks penting tersebut menimbulkan sifat
akademik menjadi objektif, bukan subjektif.
subjektif;
12 seharusnya tidak mengandung kalimat 12 sering mengandung kalimat minor;
minor;
13 seharusnya tidak mengandung 13 sering mengandung kalimat
kalimat takgramatikal; takgramatikal;

14 biasanya mengambil genre faktual, 14 mengambil genre yang lebih bervariasi


seperti deskripsi, prosedur, eksplanasi, dan dapat faktual atau fiksional.
eksposisi, dan diskusi, bukan
penceritaan fiktif.

Ciri-ciri yang dapat membedakan teks akademik dan nonakademik tersebut tidak lain adalah ciri-ciri
leksikogramatika–kata-kata dalam susunan beserta makna yang dihasilkan–yang ada di tingkat leksis
(kata), kalimat, dan wacana. Ciri-ciri itu terlihat antara lain dari pemilihan leksis, kelompok kata,
kompleksitas kalimat, dan struktur teks. Pada subbab ini, pembahasan dipusatkan pada persamaan
dan perbedaan yang tecermin dari ciri-ciri keilmiahan teks-teks tersebut dalam mengungkapkan
makna metafungsional yang meliputi makna ideasional, interpersonal, dan tekstual. Perlu Anda catat
bahwa ciri yang satu sering berkaitan dengan ciri yang lain. Hal itu tidak dianggap sebagai sesuatu yang
tumpang tindih, tetapi sesuatu yang saling melengkapi. Dengan demikian, satu bukti dapat digunakan
untuk menjelaskan lebih dari satu ciri.

a. Teks Akademik Bersifat Sederhana dalam Struktur Kalimat


Kesederhanaan teks akademik terlihat dari struktur kalimat yang sederhana melalui penggunaan
kalimat simpleks. Perbedaan antara kalimat simpleks dan kalimat kompleks tidak diukur dari panjang
pendeknya, tetapi dari jumlah aksi atau peristiwa yang dikandung. Kalimat simpleks adalah kalimat
yang hanya mengandung satu aksi atau peristiwa, sedangkan kalimat kompleks adalah kalimat yang
mengandung lebih dari satu aksi atau peristiwa dan dapat dinyatakan dengan hubungan parataktik atau
hipotaktik.
Betapa pun panjang sebuah kalimat simpleks, seperti terlihat pada Contoh (1.1), secara struktural
kalimat tersebut hanya tersusun dari tiga unsur secara linier, yaitu unsur subjek (dicetak tebal), unsur
predikator (digarisbawahi), dan unsur pelengkap dan atau keterangan (dicetak miring)

(1.1) Studi ini menguji keterkaitan [antara usia dan kinerja manager]. (Teks Ekonomi, Supriyono, 2006)

Kesederhanaan struktur pada kalimat simpleks tersebut mendukung ciri keilmiahan teks
akademik. Kenyataan tentang penggunaan kalimat simpleks yang lebih banyak daripada kalimat
kompleks secara ideasional menunjukkan logika kesederhanaan. Hal yang membuat kalimat simpleks
kadang-kadang panjang, sehingga terkesan tidak sederhana, adalah pemadatan informasi Namun
demikian, kenyataan tersebut tidak berarti bahwa pada teks-teks akademik kalimat kompleks tidak digunakan.
Pada teks-teks tersebut, jenis kalimat kompleks tertentu tetap digunakan. Ternyata jenis kalimat kompleks
yang cenderung dipilih adalah kalimat kompleks yang berhubungan secara hipotaktik (dengan konjungsi
seperti apabila, karena, dan ketika), bukan kalimat kompleks yang berhubungan secara parataktik (dengan
konjungsi seperti dan, kemudian, dan lalu). Secara logikosemantik, kalimat kompleks hipotaktik yang
demikian itu menunjukkan nilai logis dalam hal persyaratan (untuk konjungsi apabila), sebab-akibat (untuk
konjungsi karena), dan sebab-akibat dan atau urutan peristiwa (untuk konjungsi ketika). Di pihak lain, kalimat
kompleks parataktik–sebagaimana terlihat pada konjungsi yang digunakan–berfungsi sebagai ekstensi
informasi yang lazim dijumpai pada gaya nonakademik-lisan. Buku itu ditulis oleh ilmuwan terkenal dan
digunakan di banyak universitas di dunia adalah contoh kalimat kompleks parataktik, dan Buku itu menjadi
buku wajib di banyak universitas, karena buku itu memuat teori-teori mutakhir adalah contoh kalimat kompleks
hipotaktik.
b. Teks Akademik Padat Informasi
Yang dimaksud padat pada teks akademik adalah padat akan informasi dan padat akan kata-kata
leksikal. Pemadatan informasi yang lain hanya terjadi pada unsur subjek atau pelengkap saja. Secara
berturut-turut Contoh (1.2) dan Contoh (1.3) menunjukkan pemadatan informasi (dicetak tebal)
yang berupa kalimat sematan untuk memperluas kelompok nomina pada unsur subjek dan pelengkap.
Contoh (1.4) dan Contoh (1.5) menunjukkan pemadatan informasi (dicetak tebal) yang berupa
kelompok adverbia untuk memperluas kelompok nomina pada unsur subjek dan pelengkap.

(1.2) Jadi genotipe klon karet PB 260 ialah AaBB [[yang bersifat tahan terhadap PGDC]].
(Teks Biologi, Hartana & Sinaga, 2004)
(1.3) Variabel perantara [[yang dicontohkan dalam studi ini]] adalah komitmen organisasi
dan partisipasi penganggaran. (Teks Ekonomi, Supriyono, 2006)
(1.4) Secara teoretis, penelitian ini dapat memberikan sumbangan [dalam memperkaya
khasanah keilmuan [mengenai tenaga kerja wanita] ]. (Teks Sosial, Wahyuningsih &
Poerwanto, 2004)
(1.5) Konsep makna akan mengawali uraian [tentang komunikasi lintas budaya]. (Teks
Bahasa, Beratha, 2004)

Pada sisi nominalisasi, pemadatan informasi terjadi di tingkat leksis. Seperti akan dibahas pada Poin
1.4, nominalisasi adalah upaya pembendaan dari, misalnya, proses (verba), kondisi (adjektiva),
sirkumstansi (adverbia), dan logika (konjungsi). Bukti bahwa nominalisasi berdampak pada pemadatan
informasi dapat ditunjukkan dengan ilustrasi sebagai berikut. Kata komunikasi atau interaksi pada
Teks Bahasa (Beratha, 2004) sesungguhnya merupakan pemadatan dari “serangkaian proses tentang
aktivitas seseorang (orang pertama) yang sedang berbicara kepada orang lain (orang kedua), dan
orang kedua tersebut mendengarkan sambil memberikan tanggapan, sehingga orang pertama yang
sebelumnya berperan sebagai penutur kemudian berperan sebagai pendengar yang juga akan
memberikan tanggapan untuk didengarkan kembali oleh orang kedua”. Apabila proses tersebut
diungkapkan dengan kalimat, akan dibutuhkan sejumlah kalimat, tetapi sejumlah kalimat tersebut dapat
diungkapkan dengan hanya satu kata, komunikasi atau interaksi.
Pemadatan informasi melalui nominalisasi seperti itu sering merupakan pengungkapan leksis secara
inkongruen yang melibatkan metafora gramatika, yang akan dibahas pada Poin 1.5. Selain itu,
nominalisasi juga relevan dengan penamaan substansi benda melalui penggunaan istilah teknis, yang
akan dibahas pada Poin 1.6.

c. Teks Akademik Padat Kata Leksika


Kepadatan leksikal dapat dijelaskan sebagai berikut. Teks akademik lebih banyak mengandung kata
leksikal atau kata isi (nomina, verba-predikator, adjektiva, dan adverbia tertentu) daripada kata
struktural (konjungsi, kata sandang, preposisi, dan sebagainya). Pada Contoh (1.6) sampai dengan
Contoh (1.9), kata-kata yang dicetak tebal adalah kata-kata struktural dan kata-kata yang tidak dicetak
tebal adalah kata- kata leksikal. Halliday (1985b:61; 1993b:76; 1998:207) menyatakan bahwa semakin
ilmiah suatu teks, semakin besar pula kandungan kata-kata leksikalnya. Semua teks akademik yang
dikutip sebagai contoh di bawah ini memiliki leksis yang padat.
(1.6) Kesimpulan bahwa sifat ketahanan tanaman karet terhadap PGDC dikendalikan oleh dua
pasang gen utama mematahkan dugaan sebelumnya yang menyebutkan bahwa sifat
tersebut dikendalikan secara poligenik. (Teks Biologi, Hartana & Sinaga, 2004)

(1.7) Dasar teori untuk menjawab pertanyaan mengenai hubungan usia dan kinerja manajer
beserta variabel perantaranya, yaitu komitmen organisasi dan partisipasi penganggaran
pada dasarnya berakar pada teori: psikologi, sosiologi, psikologi sosial, antropologi, ilmu
politik, ekonomi, dan akuntansi keperilakuan. (Teks Ekonomi, Supriyono, 2006)

(1.8) Salah satu faktor, yang menyebabkan naiknya jumlah tenaga kerja wanita dalam
memasuki lapangan kerja, adalah muncul dan berkembangnya sektor industri, jasa dan
perdagangan yang merupakan peluang bagi tenaga kerja wanita untuk memasuki
sektor publik, terutama sektor industri yang masih berpusat pada sektor-sektor yang
dianggap sebagai sektor wanita. (Teks Sosial, Wahyuningsih & Poerwanto, 2004)

(1.9) Kajian komunikasi lintas budaya mengharapkan juga terdapatnya pemahaman terhadap
konsep metabahasa sebagai sebuah sistem universal yang digunakan untuk
membandingkan kaidah budaya pada masyarakat tutur yang berbeda agar para
penuturnya mengerti dan membuat sentuhan yang berbeda dalam berkomunikasi. (Teks
Bahasa, Beratha, 2004)

Meskipun jumlahnya lebih kecil, kata struktural lebih sering muncul daripada kata leksikal.
Apabila kata yang sama dihitung sekali, pada Contoh (1.6) untuk Teks Biologi kata leksikal
berjumlah 16 (72,8%) dan kata struktural berjumlah 6 (27,2%), pada Contoh (1.7) untuk Teks
Ekonomi kata leksikal berjumlah 26 (81,3%) dan kata struktural berjumlah 6 (18,7%), pada
Contoh (1.8) untuk Teks Sosial kata leksikal berjumlah 20 (63%) dan kata struktural berjumlah
12 (47%), serta pada pada Contoh (1.9) untuk Teks Bahasa kata leksikal berjumlah 22
(68,8%) dan kata struktural berjumlah 10 (31,2%). Persentase tersebut menunjukkan bahwa
kandungan kata leksikal pada teks-teks akademik yang dicontohkan lebih besar daripada
kandungan kata struktural, sehingga dari segi kepadatan leksikal teks-teks tersebut
mempunyai ciri keilmiahan.

Kepadatan leksikal juga dapat dilihat dari kelompok nomina yang terbentuk dari rangkaian
dua kata leksikal atau lebih tanpa disisipi oleh kata struktural apa pun, seperti diambil dari
Contoh (1.8) di atas: “naiknya jumlah tenaga kerja wanita”, “lapangan kerja”, “berkembangnya
sektor industri”, “sektor publik”, dan “sektor wanita”. Kelompok nomina akan menjadi semakin
padat apabila unsur penjelas yang melibatkan kata-kata struktural dalam kelompok
tersebut diperhitungkan. Akibatnya, kelompok nomina yang digunakan untuk memadatkan
informasi–seperti telah dipaparkan pada Poin 1.2 di atas– menjadi panjang dan kompleks.

c. Teks Akademik Banyak Memanfaatkan Nominalisasi


Ditemukan bahwa dalam realisasi leksis pada teks-teks akademik yang dicontohkan nominalisasi
digunakan untuk memadatkan informasi. Sebagai upaya pembendaan, nominalisasi ditempuh dengan
mengubah leksis nonbenda (antara lain verba, adjektiva, adverbia, konjungsi) menjadi leksis benda
(nomina). Nominalisasi pada teks akademik ditujukan untuk mengungkapkan pengetahuan dengan
lebih ringkas dan padat (Martin, 1991). Oleh karena itu, nominalisasi menjadi ciri yang sangat penting
pada teks akademik (Martin, 1992:138; Halliday, 1998:196-197; Rose, 1998:253- 258, 260-263;
Wiratno, 2009). Pada Kalimat (1.10), (1.11), (1.12), dan (1.13), contoh- contoh nominalisasi yang
dimaksud dicetak tebal.

(1.10) Pengendalian PGDC dengan cara penyemprotan fungisida terbukti kurang bermanfaat,
... (Teks Biologi, Hartana & Sinaga, 2004)
(1.11) Analisis regresi sederhana digunakan untuk menguji sebab-akibat antara satu variabel
dengan satu variabel lainnya. (Teks Ekonomi, Supriyono, 2006)

(1.12) Oleh karena itu, sumbangan wanita terhadap kelangsungan keluarga sangatlah besar.
(Teks Sosial, Wahyuningsih, & Poerwanto, 2004)

(1.13) Keterbatasan pengetahuan tentang komunikasi lintas budaya menimbulkan


ketidakwajaran dalam berkomunikasi. (Teks Bahasa, Beratha, 2004)

Contoh-contoh yang diambil dari teks-teks akademik tersebut mengandung nominalisasi:


pengendalian, penyemprotan, analisis, sumbangan, pengetahuan, komunikasi (yang secara
beturut-turut dibendakan dari verba: mengendalikan, menyemprot, menganalisis,
menyumbang, mengetahui atau tahu, berkomunikasi); sebab-akibat (yang dibendakan dari
konjungsi: sebab); dan kelangsungan, keterbatasan, ketidakwajaran (yang secara beturut-turut
dibendakan dari adjektiva: langsung, terbatas, wajar). Nominalisasi tersebut mengakibatkan
pemadatan informasi. Dapat dijelaskan bahwa masing- masing nomina tersebut–
sebagaimana telah dinyatakan pada Poin 1.2 di atas–merupakan serangkaian kegiatan yang
sesungguhnya diungkapkan dengan sejumlah kalimat tetapi dapat diringkas hanya dengan satu
leksis.

Pemadatan informasi akan menjadi semakin kompleks apabila dua atau lebih leksis hasil
nominalisasi tersebut dihimpun dalam satu gugusan pada kelompok nomina. Hasil
penghimpunan yang diambil dari Contoh (1.10) sampai dengan Contoh (1.13) di atas adalah
“Pengendalian PGDC dengan cara penyemprotan fungisida”, “Analisis regresi sederhana”,
“sebab-akibat antara satu variabel dengan satu variabel lainnya”, “sumbangan wanita
terhadap kelangsungan keluarga”, “Keterbatasan pengetahuan tentang komunikasi lintas
budaya”, dan “ketidakwajaran dalam berkomunikasi”.

Gugusan leksis sejenis itu oleh Hyland (2008:49) disebut cluster, yaitu gugusan yang
merupakan satu kesatuan yang terdiri atas dua sampai dengan empat kata (Hyland, 2008:41-
62). Menurut Hyland, pada teks akademik sebagian besar gugusan berupa kelompok nomina
atau kelompok adverbia yang (dengan bersandar pada teori Halliday) dapat berfungsi sebagai
sarana untuk memolakan makna teks secara ideasional, interpersonal, dan tekstual (Hyland,
2008:48-49). Akan tetapi, pada teks-teks akademik yang dicontohkan, gugusan leksis
cenderung berupa kelompok nomina, dan lebih banyak berkenaan dengan realisasi makna
ideasional daripada realisasi kedua makna yang lain. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
dari sudut pandang nominalisasi teks-teks tersebut menunjukkan ciri keilmiahan secara
ideasional.
e. Teks Akademik Banyak Memanfaatkan Metafora Gramatika melalui Ungkapan
Inkongruen
Metafora gramatika adalah pergeseran dari satu jenis leksis ke jenis leksis lain atau dari tataran
gramatika yang lebih tinggi ke tataran gramatika yang lebih rendah. Metafora gramatika terjadi
pada ungkapan yang inkongruen, sebagai kebalikan dari ungkapan yang kongruen (Halliday,
1985a:321; Martin, 1992:6-7, 406-417). Realisasi secara kongruen adalah realisasi yang
sewajar- wajarnya sesuai dengan realitas, misalnya benda direalisasikan sebagai nomina,
proses direalisasikan sebagai verba, kondisi direalisasikan sebagai adjektiva, dan sirkumtansi
direalisasikan sebagai adverbia. Sebaliknya, pada realisasi secara inkongruen, proses tidak
diungkapkan dengan verba tetapi dengan nomina, kondisi tidak diungkapkan dengan
adjektiva tetapi dengan nomina, dan sebagainya.

Pada Contoh (1.14) berikut ini, bagian yang dicetak tebal menunjukkan leksis- leksis yang
mengalami pergeseran, dari sebelum bergeser (kongruen) menuju setelah bergeser
(inkongruen).

(1.14) Kongruen (sebelum terjadi pergeseran): Karet berhenti tumbuh sebab PGDC
menyerang. Karet memproduksi sedikit getah sebab PGDC menyerang. Getah karet
turun.

Inkongruen (setelah terjadi pergeseran): Serangan PGDC dapat menyebabkan


terhentinya pertumbuhan dan penurunan produksi ... (Teks Biologi, Hartana & Sinaga,
2004)

Tampak bahwa berhenti bergeser menjadi terhentinya, tumbuh menjadi pertumbuhan, sebab
menjadi menyebabkan, menyerang menjadi serangan, memproduksi menjadi produksi, dan
turun menjadi penurunan. Ternyata, pergeseran tersebut sekaligus merupakan
penyederhanaan struktur kalimat dan penurunan tataran gramatika. Penyederhanaan tersebut
melibatkan tidak hanya pergeseran jenis leksis (misalnya dari verba menjadi nomina), tetapi
juga pergeseran tataran (misalnya dari kalimat menjadi kelompok nomina), dan dari 3 kalimat
(2 kalimat kompleks dan 1 kalimat simpleks) menjadi 1 kalimat simpleks.

Teks akademik banyak memanfaatkan metafora gramatika dalam ungkapan yang inkongruen
(Martin, 1993b:218-219; Martin, 1993c:226-228, 235-241; Halliday, 1993b:79-82; Halliday,
1998:188-221). Jelas bahwa dari segi metafora gramatika teks-teks akademik menunjukkan
ciri keilmiahan baik secara ideasional maupun tekstual. Secara ideasional, melalui metafora
gramatika isi materi yang disampaikan menjadi lebih padat, dan secara tekstual, cara
penyampaian materi yang melibatkan pergeseran tataran tersebut juga berdampak pada
perbedaan tata organisasi di tingkat kelompok kata atau kalimat.

f. Teks Akademik Banyak Memanfaatkan Istilah Teknis


Pada prinsipnya istilah teknis merupakan penamaan kepada sesuatu dengan menggunakan
nomina yang antara lain dibangun melalui proses nominalisasi. Istilah teknis merupakan bagian
yang esensial pada teks akademik (Halliday, & Martin, 1993b:4), karena istilah teknis
digunakan sesuai dengan tuntutan bidang ilmu (Veel, 1998:119-139; White, 1998:268-291;
Wignell, 1998:298-323), tataran keilmuan (Rose, 1998:238-263), dan latar (setting)
pokok persoalan (Veel, 1998:119-139) yang disajikan di dalamnya.
Terkait dengan bidang ilmu tempat istilah teknis digunakan, perlu digarisbawahi bahwa istilah
yang sama mungkin mengandung makna yang berbeda apabila istilah itu digunakan pada
bidang ilmu yang berbeda. Sebagai contoh, apabila istilah morfologi digunakan di bidang
linguistik, istilah tersebut mengandung makna “ilmu yang berkenaan dengan pembentukan
kata”, tetapi apabila istilah yang sama digunakan di bidang biologi/pertanian/fisika, istilah itu
mengandung makna “struktur, susunan, komposisi, atau tata letak”, seperti terlihat pada
kata yang dicetak tebal pada Kalimat (1.15).

(1.15) Penelitian di lapangan dimulai dari pengamatan dan koleksi langsung terhadap famili
Balanophoraceae ... , dilakukan pencatatan data atau informasi yang ... berupa karakter
morfologi yang mungkin hilang setelah pengawetan seperti ada/tidaknya getah, warna
daun, warna batang, tumbuhan inangnya, ketinggian lokasi di atas permukaan laut. (Teks
Biologi, Mukhti, Syamsuardi, & Chairul, 2012)
(1.16) Menurut morfologi Gunung Kelud dapat dibagi menjadi 5 unit, yaitu puncak dan kawah
Gunung Kelud, badan Kelud, cekungan parasitik Kelud, kaki dan dataran Kelud. Gunung
Kelud mempunyai ketinggian lebih dari 1731 meter dpl, dan mempunyai morfologi yang
tidak teratur. Hal ini disebabkan adanya erupsi yang bersifat eksplosif yang diikuti
pembentukan kubah lava. (Teks Fisika, Santosa, Mashuri, Sutrisno, Wafi, Salim, & Armi,
2012)

Dua hal perlu dicatat tentang istilah teknis. Pertama, istilah teknis merupakan alat yang baik untuk
membuat taksonomi atau klasifikasi terhadap pokok persoalan yang disajikan di dalam teks, yang akan
dibahas pada Poin 1.7. Kedua, istilah teknis perlu didefinisikan untuk meningkatkan pemahaman
terhadap isi secara keseluruhan, yang akan dibicarakan pada Poin 1.9. Secara ideasional, taksonomi
maupun definisi yang jelas dapat meningkatkan derajat keterbacaan teks. Sebaliknya, apabila pokok
persoalan yang disajikan di dalam teks tidak dapat diklasifikasikan secara taksonomik dan istilah-istilah
teknis tidak didefinisikan baik secara langsung maupun tidak langsung, teks tersebut cenderung
lebih sulit dipahami oleh pembaca. Kesulitan yang berkaitan dengan istilah teknis dapat diatasi dengan
mengecek kamus istilah teknis di bidang ilmu yang dimaksud.

g. Teks Akademik Bersifat Taksonomik dan Abstrak


Pada dasarnya taksonomi adalah pemetaan pokok persoalan melalui klasifikasi terhadap sesuatu.
Taksonomi menjadi salah satu ciri teks akademik (Halliday, 1993b:73-74). Oleh Wignell, Martin,
dan Eggins (1993:136-165), masalah taksonomi pada teks akademik dibahas dalam konteks bahwa
perpindahan dari pemaparan peristiwa duniawi dengan bahasa sehari-hari menuju penyusunan ilmiah
yang sistematis dengan bahasa yang lebih teknis adalah perpindahan dari deskripsi menuju
klasifikasi. Dengan berkonsentrasi pada penelitian terhadap wacana geografi-fisika, ketiga
ilmuwan tersebut berkesimpulan bahwa untuk mengubah bahasa sehari-hari menjadi bahasa ilmiah
diperlukan istilah teknis yang disusun ke dalam taksonomi (Wignell, Martin, & Eggins,1993:165).
Kesimpulan yang sama berlaku pula tidak saja bagi wacana fisika tetapi juga bagi wacana biologi
(Martin, 1993:166-202). Sementara itu, Wignell, Martin, dan Eggins (1993:136-165), Martin
(1993b:203-220), Wignell (1998:301) menggarisbawahi bahwa wacana IPA lebih bersifat taksonomik
dengan memanfaatkan istilah teknis, sedangkan wacana humaniora lebih bersifat abstrak dengan
memanfaatkan metafora gramatika.
Teks akademik dikatakan abstrak karena pokok persoalan yang dibicarakan di dalamnya seringkali
merupakan hasil dari pemformulasian pengalaman nyata menjadi teori (Halliday, 1993a:57-59;
Halliday, 1993b:70-71; Martin, 1993b: 211.212; Martin,1993c:226-228). Pemformulasian yang
demikian itu sesungguhnya merupakan proses abstraksi yang antara lain dicapai dengan nominalisasi
dalam kerangka metafora gramatika. Proses abstraksi tersebut digunakan untuk memahami
dan menginterpretasikan realitas.
Pada teks akademik, pokok persoalan dapat diungkapkan melalui taksonomi dan abstraksi. Sebagai
ilustrasi, dapat dinyatakan sebagai berikut. Pengalaman nyata (misalnya tentang tanaman karet dan
penyakit yang menyerangnya, pada sebuah teks di bidang biologi) diorganisasikan sebagai benda
secara taksonomik dengan menggunakan istilah teknis. Di pihak lain, pengalaman nyata (misalnya
tentang pengangkutan dan pembakaran batu gamping di tobong, pada sebuah teks di bidang sosial,
atau interaksi secara lintas budaya, pada sebuah teks di bidang bahasa) dapat digambarkan sebagai
aktivitas yang dikerjakan oleh manusia tanpa banyak memanfaatkan istilah teknis, tetapi
memanfaatkan pengabstraksian peristiwa. Pengabstraksian tersebut digunakan untuk memaknai
aktivitas yang dikerjakan oleh pekerja di tobong gamping pada teks sosial itu, dan untuk memaknai
interaksi yang dilakukan oleh pengguna bahasa yang mempunyai latar belakang budaya yang
berbeda pada teks bahasa tersebut.

h. Teks Akademik Banyak Memanfaatkan Sistem Pengacuan Esfora


Sebagai pengacuan di dalam KN, pengacuan esfora dimanfaatkan pada teks akademik untuk
menunjukkan prinsip generalitas, bahwa benda yang disebut di dalam kelompok nomina tersebut
bukan benda yang mengacu kepada penyebutan sebelumnya (Martin, 1992: 138). Contoh pengacuan
esfora di dalam kelompok nomina disajikan pada Gambar 1.3. Benda yang diacu berupa kalimat
sematan yang diletakkan di dalam tanda [[...]], atau kelompok adverbia yang diletakkan di dalam
tanda [...].

penyakit gugur daun corynespora (PGDC) [[yang menyerang beberapa tanaman karet ...]]
(Teks Biologi, Hartana & Sinaga, 2004)

hubungan [antara komitmen organisasi dan partisipasi penganggaran] (Teks


Ekonomi, Supriyono, 2006)

wanita pekerja [di tobong gamping] (Teks Sosial, Wahyuningsih & Poerwanto,
2004)

semantik/makna [dalam perspektif komunikasi lintas budaya] (Teks Bahasa, Beratha, 2004)

Pada Gambar 1.3 di atas, arah anak panah menunjukkan arah pengacuan. Tampak jelas bahwa
“penyakit gugur daun corynespora (PGDC)” mengacu kepada “[[yang menyerang beberapa tanaman
karet ...]]”, “hubungan” mengacu kepada “[antara komitmen organisasi dan partisipasi
penganggaran]”, “wanita pekerja” mengacu kepada “[di tobong gamping]”, dan “semantik/makna”
mengacu kepada “[dalam perspektif komunikasi lintas budaya]”. Dapat digarisbawahi bahwa
pengacuan hanya ditujukan kepada substansi yang berada di dalam kelompok nomina yang dimaksud.
Sebagian besar partisipan yang ditemukan pada teks-teks tersebut adalah partisipan benda umum,
bukan partisipan benda manusia. Selain itu, sejalan dengan pendapat Martin pada paragraf di atas,
benda yang disebut sesudahnya bukan selalu merupakan benda yang disebut sebelumnya,
terutama dalam pengacuan yang berjenis esfora. Kenyataan tersebut menunjukkan makna bahwa
benda-benda yang dimaksud pada teks-teks tersebut adalah benda-benda yang memenuhi konsep
generalitas, yaitu benda-benda yang sudah diabstrakkan untuk menyatakan generalisasi, bukan
benda-benda yang secara eksperiensial berada di sekitar manusia.
Pada teks-teks akademik yang dicontohkan, sekitar 50% dari jumlah kelompok nomina yang ada
mengandung penegas, yaitu benda pada kelompok nomina tersebut diberi penjelasan yang berupa
kualifikasi. Hal ini berarti bahwa sejumlah besar kelompok nomina pada teks-teks tersebut merupakan
kelompok nomina yang memberlakukan pengacuan esfora. Berdasarkan kenyataan bahwa
kelompok nomina (dengan penegas sebagai pengacuan esfora) menjadi ciri penting pada teks
akademik, dan terbukti bahwa teks-teks akademik yang dicontohkan pada pembahasan ini
menggunakan pengacuan esfora dengan persentase yang tinggi, dapat disimpulkan bahwa teks-teks
tersebut menunjukkan ciri keilmiahan apabila dilihat dari segi penggunaan pengacuan esfora.

i. Teks Akademik Banyak Memanfaatkan Proses Relasional Identifikatif dan


Proses Relasional Atributif
Terdapat dua jenis proses relasional, yaitu proses relasional identifikatif dan proses relasional atributif.
Proses relasional identifikatif merupakan alat yang baik untuk membuat definisi atau identifikasi
terhadap sesuatu, sedangkan proses relasional atributif merupakan alat yang baik untuk membuat
deskripsi dengan menampilkan sifat, ciri, atau keadaan benda yang dideskripsikan tersebut.
Mengenai pentingnya proses relasional identifikatif untuk membuat definisi pada teks akademik, Wignell,
Martin dan Eggins (1993: 149-152) menyatakan bahwa biasanya definisi dibuat terhadap istilah teknis.
Namun demikian, tidak semua istilah teknis yang terdapat di teks-teks akademik, terutama istilah
teknis yang belum umum, didefinisikan atau diidentifikasikan. Padahal melalui proses relasional
identifikatif, definisi semacam itu dapat dibuat dengan baik. Selain itu, melalui proses relasional
identifikatif itu, definisi juga berfungsi untuk mentransfer pengetahuan umum ke dalam pengetahuan
yang lebih khusus (Martin, 1993b:209-210). Kenyataan tentang sedikitnya istilah teknis yang
didefinisikan pada teks-teks akademik itu menyebabkan teks-teks tersebut, secara ideasional cenderung
sulit dicerna.
Tabel 1.3 menyajikan contoh-contoh definisi istilah teknis (dicetak tebal). Pada contoh-contoh
tersebut, melalui proses relasional identifikatif, istilah teknis diposisikan sebagai token (yaitu sesuatu
yang didefinisikan) dan definisi itu sendiri (yaitu yang terkandung di dalam istilah teknis tersebut)
diposisikan sebagai nilai. Kalimat definisi tersebut dapat dibalik, sehingga token yang berada di depan
dapat dipindahkan ke belakang, dan sebaliknya nilai yang berada di belakang dapat dipindahkan
ke depan.

Tabel 1.3 menyajikan contoh-contoh definisi istilah teknis (dicetak tebal).

Teks Biologi, Hartana & Sinaga, 2004


cara inokulasi dengan meletakkan
Metode sandwich potongan agar yang mengandung
adalah
miselium cendawan pada helaian
daun
Subjek Finit Pelengkap
Proses: Relasional
Token Identifikatif Nilai

Teks Ekonomi, Supriyono, 2006


(1) bagian dari eksistensi yang
Usia adalah dihitung dari awal kelahiran sampai
titik waktu tertentu;
Subjek Finit Pelengkap
Proses: Relasional
Token Nilai
Identifikatif
Teks Sosial, Wahyuningsih & Poerwanto, 2004
lapangan pekerjaan (adalah) tempat untuk mencari nafkah.
Subjek Pelengkap
Proses: Relasional
Token/ Nilai
Identifikatif

Teks Bahasa, Beratha, 2004

… kajian wacana studi tentang bahasa dalam


adalah
penggunaan (language in use).
Subjek Finit Pelengkap
Proses: Relasional
Token Nilai
Identifikatif

Di pihak lain, mengenai pentingnya proses relasional atributif untuk membuat deskripsi pada teks
akademik, dapat dinyatakan bahwa menampilkan sifat, ciri, atau keadaan pokok persoalan yang
diketengahkan berarti membuat deskripsi tentang pokok persoalan tersebut. Tabel 1.4 menyajikan
contoh-contoh deskripsi dengan proses relasional atributif yang diambil dari teks-teks akademik yang
dicontohkan. Pada contoh-contoh tersebut benda yang dideskripsikan (dicetak tebal) diposisikan
sebagai penyandang, dan deskripsinya itu sendiri diposisikan sebagai sandangan.
Pada contoh-contoh tersebut tampak bahwa benda yang diposisikan sebagai penyandang dideskripsikan
dalam hal ciri, sifat, dan keadaannya. Dengan cara demikian, benda yang dideskripsikan menjadi lebih jelas
dan lugas atau tampak seperti adanya. Hal ini berarti pula bahwa sesuatu yang dideskripsikan itu adalah
sesuatu yang ditampilkan secara objektif. Kejelasan tersebut tidak saja tertuju pada kelas atau kelompok
benda yang menjadi objek pembicaraan tetapi juga pada cakupan wilayah pengetahuan yang dijangkau. Di
sinilah antara lain letak penjelasan bahwa teks akademik itu objektif dan lugas. Pemilihan proses relasional
atributif dapat meningkatkan derajat keobjektifan dan kelugasan teks akademik.

Di pihak lain, mengenai pentingnya proses relasional atributif untuk membuat deskripsi pada teks
akademik, dapat dinyatakan bahwa menampilkan sifat, ciri, atau keadaan pokok persoalan yang
diketengahkan berarti membuat deskripsi tentang pokok persoalan tersebut. Tabel 1.4 menyajikan
contoh-contoh deskripsi dengan proses relasional atributif yang diambil dari teks-teks akademik yang
dicontohkan. Pada contoh-contoh tersebut benda yang dideskripsikan (dicetak tebal) diposisikan
sebagai penyandang, dan deskripsinya itu sendiri diposisikan sebagai sandangan.
Pada contoh-contoh tersebut tampak bahwa benda yang diposisikan sebagai penyandang dideskripsikan
dalam hal ciri, sifat, dan keadaannya. Dengan cara demikian, benda yang dideskripsikan menjadi lebih jelas
dan lugas atau tampak seperti adanya. Hal ini berarti pula bahwa sesuatu yang dideskripsikan itu adalah
sesuatu yang ditampilkan secara objektif. Kejelasan tersebut tidak saja tertuju pada kelas atau kelompok
benda yang menjadi objek pembicaraan tetapi juga pada cakupan wilayah pengetahuan yang dijangkau. Di
sinilah antara lain letak penjelasan bahwa teks akademik itu objektif dan lugas. Pemilihan proses relasional
atributif dapat meningkatkan derajat keobjektifan dan kelugasan teks akademik.

Tabel 1.4 Definisi dengan proses relasional atributif sebagai ciri teks akademik

Teks Biologi (Hartana, & Sinaga, 2004)

Pengendalian PGDC
dengan cara
Terbukti kurang bermanfaat
penyemprotan
fungisida

Subjek Finit/Predikator Pelengkap

Proses: Relasional
Penyandang Sandangan
Atributif

Teks Ekonomi (Supriyono, 2006)

salah satu faktor demografi yang


Usia Merupakan mempengaruhi diferensiasi tenaga
kerja dalam sikap dan perilaku.
Subjek Finit Pelengkap
Proses: Relasional
Penyandang Sandangan
Atributif

Teks Sosial (Wahyuningsih & Poerwanto, 2004)

... jumlah wanita yang


jauh lebih sedikit.
bekerja
Subjek Finit/Pelengkap

Penyandang Proses: Relasional Atributif/Sandangan

Teks Bahasa (Beratha, 2004)

tanda (sign), signal (signal), dan simbol


Bahasa terdiri atas (symbol).

Subjek Finit/Predikator Pelengkap

Penya Proses: Relasional


Sandangan
ndang Atributif

j. Teks Akademik Bersifat Monologis dengan Banyak Mendayagunakan


Kalimat Indikatif-Deklaratif
Sifat monologis pada teks akademik mengandung arti bahwa teks tersebut memberikan informasi
kepada pembaca dalam satu arah. Untuk memenuhi sifat monologis tersebut teks akademik
mendayagunakan kalimat Indikatif-Deklaratif yang berfungsi sebagai Proposisi-Memberi, berbeda
dengan kalimat Indikatif- Interogatif yang berfungsi sebagai Proposisi-Meminta atau kalimat Imperatif
yang berfungsi sebagai Proposal-Meminta. Pada teks akademik penulis tidak meminta kepada
pembaca untuk melakukan sesuatu (jasa), dan juga tidak meminta informasi, tetapi memberi informasi.
Informasi yang diberikan oleh penulis berkenaan dengan pokok persoalan yang dibahas di dalam
teks. Secara interpersonal, melalui kalimat-kalimat Indikatif- Deklaratif, penulis teks akademik
memberikan informasi dan pembaca menerimanya. Sebagai penyedia informasi, penulis teks akademik
tidak menunjukkan posisi yang lebih tinggi daripada pembaca. Hal ini berkebalikan dengan kalimat
imperatif yang berfungsi sebagai Proposal-Meminta yang mencerminkan posisi penulis yang lebih
tinggi daripada pembaca. Selain itu, apabila sebuah teks banyak mengandung kalimat imperatif dan
kalimat Indikatif-Interogatif, dampak yang terjadi adalah nada dialogis. Akibatnya, pencipta teks seolah-
olah melakukan percakapan dengan penerima teks.
Meskipun kalimat Indikatif-Interogatif masih ditemukan pada teks akademik dalam jumlah yang lain
relatif kecil, jenis kalimat tersebut mengemban fungsi sebagai Proposisi-Meminta. Namun
demikian, perlu digarisbawahi bahwa pertanyaan tersebut tidak selalu ditujukan kepada pembaca,
meskipun potensi ke arah hal itu besar (Hyland, 2005:173-192), tetapi diajukan sebagai pembatas
atau alat untuk mengambil porsi dalam mengajukan pendapat terhadap pokok masalah yang
dibicarakan di dalam teks tersebut (Martin, & White, 2005:97-98)

k. Teks Akademik Memanfaatkan Bentuk Pasif untuk Menekankan Pokok Persoalan, bukan
Pelaku; dan Akibatnya, Teks Akademik Menjadi Objektif, bukan Subjektif
Ciri bahwa teks akademik memanfaatkan bentuk pasif sudah lama dibahas (Martin, 1985a:42-
43; Halliday, 1993a:581; Banks, 1996:15), tetapi kenyataan ini hendaknya tidak dipahami
sebagai kebalikannya bahwa teks akademik tidak memanfaatkan bentuk aktif. Penggunaan
bentuk pasif pada teks akademik dimaksudkan untuk menghilangkan pelaku manusia,
sehingga unsur kalimat yang berperan sebagai subjek dijadikan pokok persoalan yang
dibicarakan di dalam teks tersebut. Dengan menganggap pelaku itu tidak penting, subjek
atau pokok pembicaraan yang bukan pelaku dianggap lebih penting, dan karenanya
ditemakan. Pemilihan tema seperti ini sangat diperlukan, karena teks akademik tidak
membahas para pelaku atau ilmuwan, tetapi membahas pokok persoalan tertentu yang
disajikan di dalamnya. Pokok persoalan tersebut ditempatkan sebagai tema pada kalimat-
kalimat yang ada; dan penggunaan bentuk pasif dimaksudkan sebagai strategi pemetaan tema
tersebut (Martin, 1993a:193-194).
Pada konteks jenis proses, pelaku yang dihilangkan tersebut adalah pelaku yang melakukan
perbuatan fisik atau nonfisik, khususnya pada proses material, mental, verbal, dan perilaku,
bukan pada proses relasional atau eksistensial, meskipun dimungkinkan. Pelaku dapat
berupa aktor (untuk proses material), pengindera (untuk proses mental), pewicara (untuk
proses verbal), dan pemerilaku (untuk proses perilaku). Pada Contoh (1.17) sampai dengan
Contoh (1.19), pelaku yang dimaksud tidak tampak, dan melalui bentuk pasif (dicetak
tebal) yang ditonjolkan adalah subjek kalimat (dicetak miring).
(1.17) Isolat C. cassiicola yang diketahui paling virulen (dari?) hasil pengujian sebelumnya
(Suwarto et al.1996) digunakan sebagai inokulum. (Teks Biologi, Hartana & Sinaga, 2004)

(1.18) Studi ini didasarkan pada gagasan bahwa komitmen organisasi mendorong
manajer berpartisipasi dalam proses penganggaran. (Teks Ekonomi, Supriyono, 2006)

(1.19) ... aktivitas wanita di tobong gamping ini dapat dikatakan masuk dalam stereotip
pekerjaan laki-laki. (Teks Sosial, Wahyuningsing & Poerwanto, 2004)
(1.20) Studi tentang lintas bahasa/budaya (cross culture understanding) sangat diperlukan. (Teks
Bahasa, Beratha, 2004)

Sesungguhnya pelaku dapat diidentifikasi dari Finit/Predikator pada masing- masing contoh
tersebut (digunakan, didasarkan, dapat dikatakan, dan diperlukan), apabila kalimat-kalimat
tersebut dijadikan kalimat aktif. Pada Contoh (1.17), pelaku yang menggunakan isolat untuk
pengujian tersebut adalah peneliti, pada Contoh (1.18), pelaku yang mendasarkan studinya
pada gagasan tentang komitmen organisasi dan partisipasi penganggaran tersebut adalah
peneliti, pada Contoh (1.19), pelaku yang mengatakan aktivitas wanita tersebut sebagai
pekerjaan laki-laki adalah penulis, serta pada Contoh (1.20), pelaku yang memandang perlu
studi lintas budaya adalah ilmuwan. Akan tetapi, apabila peneliti, penulis, atau ilmuwan
tersebut dijadikan subjek, subjek tersebut akan berfungsi sebagai tema topikal, yang tidak
lain adalah pokok pembicaraan yang dikemukan di dalam kalimat-kalimat tersebut. Padahal,
pokok pembicaraan pada teks-teks tersebut bukan peneliti, penulis, atau ilmuwan.
Terbukti bahwa teks-teks akademik yang dicontohkan menunjukkan ciri keilmiahan melalui
bentuk pasif sebagaimana dibahas di atas. Terutama untuk proses material, mental, verbal, dan
perilaku, pada teks-teks tersebut pelaku cenderung dihilangkan dengan menggunakan bentuk
pasif yang cukup besar. Dengan menghilangkan pelaku dan lebih mementingkan peristiwa
yang terjadi, teks akademik menunjukkan sifat objektif. Pada konteks ini, bentuk pasif
merupakan sarana untuk menyajikan aksi, kualitas, dan peristiwa dengan menganggap bahwa
aksi, kualitas, dan peristiwa tersebut sebagai objek (Halliday, 1993a:58). Dengan demikian,
pada teks akademik, tidak terkecuali teks-teks akademik yang dicontohkan, terjadi objektifikasi.

l. Teks Akademik Seharusnya tidak Mengandung Kalimat Minor


Kalimat minor adalah kalimat yang tidak lengkap. Kalimat minor berkekurangan salah satu dari unsur
pengisi subjek atau finit/predikator. Akibatnya, kalimat tersebut dapat dianalisis dari sudut pandang
leksikogramatika, serta tidak dapat pula dianalisis menurut jenis dan fungsinya. Keberadaan kalimat
minor pada teks akademik tidak saja menyebabkan tidak dapat diidentifikasinya unsur-unsur
leksikogramatika secara ideasional dan interpersonal, tetapi juga menyebabkan terhentinya arus
informasi secara tekstual.
Secara ideasional, karena transitivitas pada kalimat minor tidak dapat dikenali, makna yang bersifat
eksperiensial yang melibatkan partisipan, proses, dan sirkumstansi pada kalimat tersebut tidak dapat
diungkapkan. Selain itu, karena hubungan interdependensi pada kalimat minor tidak dapat
diidentifikasi, makna logikosemantik pada kalimat tersebut juga tidak dapat diungkapkan. Dari sini,
dapat digarisbawahi bahwa secara ideasional derajat keilmiahan teks akademik yang mengandung
kalimat minor berkurang.
Secara interpersonal, karena kalimat minor tidak dapat digolongkan ke dalam kalimat indikatif-
dekalaratif/interogatif atau imperatif, kalimat tersebut tidak mengungkapkan fungsinya sebagai
proposisi-memberi atau proposal-meminta. Padahal, informasi pada teks akademik perlu
disampaikan melalui penggunaan kalimat indikatif-deklaratif yang mengemban fungsi sebagai
proposisi-memberi. Dari sini, dapat digarisbawahi bahwa secara interpersonal teks akademik yang
mengandung kalimat minor tampak sebagai teks lisan, dan karenanya, menunjukkan ciri nonakademik.
Demikian pula, secara tekstual, paragraf yang mengandung kalimat minor tidak kohesif secara
tematis. Selain pola tema-rema pada kalimat minor tidak dapat diidentifikasi, pola hiper-tema
dan hiper-rema pada paragraf yang mengandung kalimat tersebut juga tidak dapat ditentukan.
Secara keseluruhan, informasi pada paragraf tersebut tidak dapat mengalir menuju atau dari kalimat
minor tersebut. Dari sini dapat ditegaskan bahwa kalimat minor mengganggu tematisasi baik di tingkat
kalimat maupun paragraf (wacana), dan karenanya secara tekstual, derajat keilmiahan teks akademik
yang mengandung kalimat minor berkurang.
Dengan menganalogikan istilah “nonkalimat” untuk menyebut “kalimat tidak lengkap” yang masih
sering dijumpai pada teks akademik dalam bahasa Indonesia (Lumintaintang, 1983), kalimat minor
dapat dikatakan sebagai “nonkalimat”; dan karena teks akademik masih mengandung banyak
kalimat minor, teks tersebut menunjukkan ciri ragam bahasa nonbaku (baca: nonilmiah).

m. Teks Akademik Seharusnya tidak Mengandung Kalimat Takgramatikal


Kalimat takgramatikal adalah kalimat yang secara gramatikal mengandung kekurangan atau kelebihan
unsur-unsur tertentu, misalnya kata-kata leksikal seperti nomina (yang berfungsi sebagai subjek) dan
verba (yang berfungsi sebagai finit/predikator), atau kata-kata struktural, seperti konjungsi dan
preposisi. Pada Contoh (1.21) sampai dengan Contoh (1.24), kekurangan tersebut diberi tanda tanya
(?) dan kelebihan tersebut diberi tanda asterik (*) yang masing-masing dicetak tebal dan diletakkan di
dalam tanda kurung. Contoh (1.21) adalah kalimat yang berkekurangan kata struktural (konjungsi
“yang”) dan Contoh (1.22) adalah kalimat yang berkekurangan kata leksikal (verba “menunjukkan”),
sedangkan Contoh (1.23) adalah kalimat yang berkelebihan kata leksikal (pronomina “mereka”) dan
Contoh (1.24) adalah kalimat yang berkekurangan kata struktural (preposisi “bagi”).
(1.21) Pengujian tersebut menghasilkan data 28 nomor semai [[(yang?) memperlihatkan sifat tahan, 4
nomor moderat, dan 14 nomor rentan]]. (Teks Biologi, Hartana & Sinaga, 2004)

(1.22) Uji reliabilitas (keandalan) [[berdasar koefisien alpha Cronbach]] (menunjukkan?) [[variabel-
variabel ini sebesar 0.8438 (di atas batas 0.50), sehingga andal]], sedangkan uji validitas
(kesahihan) berdasar analisis faktor menunjukkan [[semua pertanyaan tersebut sahih (di atas batas
0.30)]]. (Teks Ekonomi, Supriyono, 2006)

(1.23) Wanita [[yang bekerja di tobong gamping [dalam kenyataan hidup sehari-harinya (mereka*)]
]] disibukkan dengan bekerja mencari nafkah dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. (Teks
Sosial, Wahyuningsing & Poerwanto, 2004)

(1.24) (Bagi*) mereka [[yang terlibat dalam suatu peristiwa tutur]] perlu menguasai fungsi-fungsi
tuturan budaya barat serta fungsi-fungsi tuturan budaya timur. (Teks Bahasa, Beratha, 2004)

Teks akademik yang mengandung kalimat takgramatikal, baik yang berkekurangan maupun yang
berkelebihan unsur tertentu, adalah teks yang menunjukkan ciri bahasa takbaku. Oleh karena itu,
derajat keilmiahan teks tersebut berkurang. Secara tekstual, ketakgramatikalan pada teks akademik
menunjukkan ciri ketidakilmiahan atau ciri lisan. Selain sulit ditabulasikan ke dalam stuktur kalimat,
ketakgramatikalan juga mengganggu pemahaman pembaca, yang pada akhirnya juga mengurangi
tingkat keterbacaan teks tersebut.

n. Teks Akademik Tergolong ke dalam Genre Faktual bukan Genre Fiksional


Sebagian besar teks akademik yang dikutip sebagai tugas pada poin-poin di atas adalah artikel
ilmiah. Teks akademik yang demikian itu tergolong ke dalam genre faktual, bukan genre fiksional.
Teks-teks tersebut dikatakan faktual, karena teks-teks tersebut ditulis berdasarkan pada kenyataan
empiris, bukan pada rekaan atau khayalan (Martin, 1985b; Martin, 1992:562-563) Dilihat dari segi
genre makro dan genre mikro, teks-teks akademik yang dijadikan tugas tersebut dapat digolongkan
ke dalam genre makro artikel ilmiah atau artikel jurnal. Sebagai artikel ilmiah, teks-teks tersebut
mengandung beberapa genre mikro sekaligus, antara lain deskripsi, eksplanasi, prosedur, eksposisi, dan
diskusi. Terdapat kecenderungan bahwa setiap subbab atau setiap tahap dalam struktur teks pada
artikel mengandung genre mikro yang berbeda, sesuai dengan karakteristik subbab-subbab
tersebut.

2. Menyajikan Teks Akademik dalam Berbagai Genre Makro


Pernahkah Anda mempertanyakan bahwa ulasan buku, proposal penelitian atau proposal kegiatan,
laporan penelitian atau laporan kegiatan, serta artikel ilmiah ditata menurut struktur teks dan pilihan
leksikogramatika tertentu? Pada Makalah ini, Anda diajak untuk mencermati contoh-contoh cuplikan
dari masing-masing genre itu dengan mengenali struktur teksnya dan genre-gere mikro yang
terkandung di dalamnnya

a. Ulasan Buku
Buku dapat dikelompokkan menjadi buku ajar dan buku referensi. Buku yang sedang Anda baca ini
termasuk ke dalam buku ajar. Sesuai dengan namanya, buku referensi adalah buku yang digunakan
sebagai referensi atau bahan rujukan pada saat orang menyusun karya ilmiah. Di lingkungan akademik,
buku sering diulas untuk mengetahui keunggulan dan kelemahannya. Pada subbab ini, Anda akan
menelusuri bagaimana ulasan buku disusun dengan struktur teks sesuai dengan konvensi yang
berlaku.
Ulasan buku yang juga sering disebut timbangan buku adalah tulisan yang berisi tentang kritik terhadap
buku yang dimaksud. Ulasan semacam ini Anda perlukan pada saat Anda menyajikan kajian pustaka
dalam proposal penelitian, laporan penelitian (yang dapat berupa skripsi, tesis, dan disertasi), atau
artikel ilmiah. Pernahkah Anda menanya bahwa ulasan buku ditata dengan struktur teks dan
leksikogramatika tertentu?
Ulasan buku memiliki struktur teks identitas^orientasi^tafsiran isi^evaluasi^ rangkuman evaluasi
(Tanda ^ berarti diikuti oleh). Masing-masing tahapan pada struktur teks itu mengandung genre mikro
yang berbeda-beda, bergantung kepada fungsi retoris setiap tahapan itu. Anda akan mempelajari cara
menyusun ulasan buku pada Bab II

b. Proposal
Proposal merupakan tulisan yang berisi rancangan penelitian atau rancangan kegiatan. Proposal
dapat berupa proposal penelitian atau proposal kegiatan. Proposal penelitian memiliki struktur
teks pendahuluan^landasan teori dan tinjauan pustaka^metodologi penelitian. Adapun proposal
kegiatan memiliki struktur teks pendahuluan^tata laksana kegiatan^penutup. Masing-masing tahapan
pada struktur teks proposal mengandung genre mikro yang berbeda-beda, sesuai dengan fungsi
retoris masing-masing tahapan tersebut. Anda akan mempelajari cara menyusun proposal penelitian
dan proposal kegiatan pada Bab III.

c. Laporan
Laporan dapat dikelompokkan menjadi laporan penelitian dan laporan kegiatan. Laporan penelitian
ditata dengan struktur teks: pendahuluan^landasan teoretis dan tinjauan pustaka^metodologi
penelitian^hasil^pembahasan^penutup. Adapun laporan kegiatan mempunyai struktur teks yang
lebih fleksibel, sesuai dengan cakupan kegiatan yang dilaporkan itu. Akan tetapi, pada umumnya,
struktur teks laporan kegiatan adalah pendahuluan^deskripsi kegiatan^pelaksanaan
kegiatan^penutup. Masing-masing tahapan pada struktur teks tersebut mengandung genre mikro yang
berbeda-beda, sesuai dengan fungsi retoris masing-masing
tahapan tersebut. Anda akan mempelajari cara menyusun laporan penelitian dan laporan kegiatan
pada Bab IV.

d. Artikel Ilmiah
Artikel ilmiah dapat dikelompokkan menjadi artikel penelitian dan artikel konseptual. Anda akan
mempelajari cara menyusun artikel ilmiah pada Bab V. Pada dasarnya artikel penelitian adalah laporan
penelitian yang disusun dalam bentuk artikel. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila struktur
teks artikel penelitian sama dengan struktur teks laporan penelitian, yaitu:
abstrak^pendahuluan^tinjauan pustaka^ metodologi penelitian^hasil^pembahasan^simpulan. Di
pihak lain, artikel konseptual adalah artikel sebagai hasil pemikiran mengenai sesuatu secara
konseptual. Artikel konseptual disusun dengan struktur teks yang lebih fleksibel, bergantung kepada
cakupun pokok persoalan dan konsep atau teori yang digunakan untuk membicarakan pokok persoalan
tersebut. Setiap tahapan pada struktur teks artikel ilmiah mengandung genre mikro yang berbeda-
beda sesuai dengan fungsi retoris masing-masing tahapan tersebut.

Anda mungkin juga menyukai