LP Mioma Uteri
LP Mioma Uteri
LP Mioma Uteri
MIOMA UTERI
STASE KEPERAWATAN MATERNITAS
DISUSUN OLEH :
Nissa Wildan
NPM: 2014901110061
TAHUN 2020
A. PENGERTIAN
Mioma uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat
yang menumnpang, sehingga dalam kepustakaan dikenal dengan istilah Fibromioma,
leiomioma, atau fibroid (Mansjoer, 2007).
Mioma Uteri adalah suatu tumor jinak, berbatas tegas, tidak berkapsul, yang berasal
dari otot polos dan jaringan ikat fibrous. Biasa juga disebut fibromioma uteri, leiomioma
uteri atau uterine fibroid. Tumor jinak ini merupakan neoplasma jinak yang paling sering
ditemukan pada traktus genitalia wanita,terutama wanita usai produktif. Walaupun tidak
sering, disfungsi reproduksi yang dikaitkan dengan mioma mencakup infertilitas, abortus
spontan, persalinan prematur, dan malpresentasi (Crum, 2003).
B. KLASIFIKASI
Mioma umumnya digolongkan berdasarkan lokasi dan ke arah mana mereka tumbuh.
Klasifikasinya sebagai berikut :
1. Mioma intramural : merupakan mioma yang paling banyak ditemukan. Sebagian besar
tumbuh di antara lapisan uterus yang paling tebal dan paling tengah, yaitu miometrium.
2. Mioma subserosa : merupakan mioma yang tumbuh keluar dari lapisan uterus yang
paling luar, yaitu serosa dan tumbuh ke arah rongga peritonium. Jenis mioma ini
bertangkai (pedunculated) atau memiliki dasar lebar. Apabila terlepas dari induknya dan
berjalan-jalan atau dapat menempel dalam rongga peritoneum
disebut wandering/parasitic fibroid Ditemukan kedua terbanyak.
3. Mioma submukosa : merupakan mioma yang tumbuh dari dinding uterus paling dalam
sehingga menonjol ke dalam uterus. Jenis ini juga dapat bertangkai atau berdasarkan
lebar. Dapat tumbuh bertangkai menjadi polip, kemudian dilahirkan melalui saluran
serviks, yang disebut mioma geburt (Chelmow, 2005)
C. ETIOLOGI
1. Usia penderita
Mioma uteri ditemukan sekitar 20% pada wanita usia reproduksi dan sekitar 40%-
50% pada wanita usia di atas 40 tahun (Suhatno, 2007). Mioma uteri jarang ditemukan
sebelum menarke (sebelum mendapatkan haid). Sedangkan pada wanita menopause
mioma uteri ditemukan sebesar 10% (Joedosaputro, 2005).
2. Hormon endogen (Endogenous Hormonal)
Konsentrasi estrogen pada jaringan mioma uteri lebih tinggi daripada jaringan
miometrium normal. (Djuwantono, 2005)
3. Riwayat Keluarga
Wanita dengan garis keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma uteri
mempunyai 2,5 kali kemungkinan untuk menderita mioma dibandingkan dengan wanita
tanpa garis keturunan penderita mioma uteri. (Parker, 2007)
4. Indeks Massa Tubuh (IMT)
Obesitas juga berperan dalam terjadinya mioma uteri. (Parker, 2007)
5. Makanan
Dilaporkan bahwa daging sapi, daging setengah matang (red meat), dan daging
babi menigkatkan insiden mioma uteri, namun sayuran hijau menurunkan insiden
mioma uteri (Parker, 2007).
6. Kehamilan
Kehamilan dapat mempengaruhi mioma uteri karena tingginya kadar esterogen
dalam kehamilan dan bertambahnya vaskularisasi ke uterus. Hal ini mempercepat
pembesaran mioma uteri (Manuaba, 2003).
7. Paritas
Mioma uteri lebih banyak terjadi pada wanita dengan multipara dibandingkan
dengan wanita yang mempunyai riwayat frekuensi melahirkan 1 (satu) atau 2 (dua) kali
(Khashaeva, 1992).
D. PATOFISIOLOGI
Ammature muscle cell nest dalam miometrium akan berproliferasi hal tersebut
diakibatkan oleh rangsangan hormon estrogen. ukuran myoma sangat bervariasi. sangat
sering ditemukan pada bagian body uterus (corporeal) tapi dapat juga terjadi pada servik.
Tumot subcutan dapat tumbuh diatas pembuluh darah endometrium dan menyebabkan
perdarahan. Bila tumbuh dengan sangat besar tumor ini dapat menyebabkan penghambat
terhadap uterus dan menyebabkan perubahan rongga uterus. Pada beberapa keadaan tumor
subcutan berkembang menjadi bertangkai dan menonjol melalui vagina atau cervik yang
dapat menyebabkan terjadi infeksi atau ulserasi. Tumor fibroid sangat jarang bersifat ganas,
infertile mungkin terjadi akibat dari myoma yang mengobstruksi atau menyebabkan kelainan
bentuk uterus atau tuba falofii. Myoma pada badan uterus dapat menyebabkan aborsi secara
spontan, dan hal ini menyebabkan kecilnya pembukaan cervik yang membuat bayi lahir sulit.
E. PATHWAY MIOMA UTERI
F. TANDA DAN GEJALA
Gejala yang timbul sangat tergantung pada tempat mioma, besarnya tumor, perubahan dan
komplikasi yang terjadi. Gejala yang mungkin timbul diantaranya:
Perdarahan abnormal, berupa, menoragia dan metroragia. Faktor-faktor yang
menyebabkan perdarahan antara lain.
- Terjadinya hiperplasia endometrium sampai adenokarsinoma endometrium karena
pengaruh ovarium
- Permukaan endometrium yang lebih luas daripada biasanya
- Atrofi endometrium di atas mioma submukosum
- Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya mioma di antara
serabut miometrium
Rasa nyeri yang mungkin timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma,
yang disertai nekrosis setempat dan peradangan. Nyeri terutama saat menstruasi
Pembesaran perut bagian bawah
Uterus membesar merata
Infertilitas
Perdarahan setelah bersenggama
Dismenore
Abortus berulang
Poliuri, retention urine, konstipasi serta edema tungkai dan nyeri panggul(Chelmow,
2005)
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis mioma uteri ,
sebagai berikut :
1. Ultra Sonografi (USG), untuk menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan
endometrium dan keadaan adneksa dalam rongga pelvis. Mioma juga dapat dideteksi
dengan Computerized Tomografi Scanning (CT scan) ataupun Magnetic Resonance
Image ( MRI), tetapi kedua pemeriksaan itu lebih mahal.
2. Foto Bulk Nier Oversidth (BNO), Intra Vena Pielografi (IVP) pemeriksaaan ini penting
untuk menilai massa di rongga pelvis serta menilai fungsi ginjal dan perjalanan ureter.
3. Histerografi dan histerokopi untuk menilai pasien mioma submukosa disertai dengan
infertilitas.
4. Laparoskopi untuk mengevaluasi massa pada pelvis.
5. Laboratorium: hitung darah lengkap dan apusan darah, untuk menilai kadar hemoglobin
dan hematokrit serta jumlah leukosit.
6. Tes kehamilan adalah untuk tes hormon Chorionic gonadotropin, karena bisa membantu
dalam mengevaluasi suatu pembesaran uterus, apakah oleh karena kehamilan atau oleh
karena adanya suatu mioma uteri yang dapat menyebabkan pembesaran uterus
menyerupai kehamilan.
H. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada mioma uteri secara umum, yaitu:
1. Degenerasi ganas
Kecurigaan akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila
terjadi pembesaran sarang mioma dalam menopause.
2. Torsi (putaran tangkai)
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut
sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian terjadi sindrom abdomen akut.
I. PENATALAKSANAAN
Penanganan mioma menurut usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor
Penanganan mioma uteri tergantung pada usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor, dan terbagi
atas:
a. Penanganan konservatif
Cara penanganan konservatif dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan.
2. Monitor keadaan Hb
3. Pemberian zat besi
4. Penggunaan agonis GnRH untuk mengurangi ukuran mioma.
b. Penanganan operatif
Intervensi operasi atau pembedahan pada penderita mioma uteri adalah :
1. Perdarahan uterus abnormal yang menyebabkan penderita anemia
2. Nyeri pelvis yang hebat
3. Ketidakmampuan untuk mengevaluasi adneksa (biasanya karena mioma
berukuran kehamilan 12 minggu atau sebesar tinju dewasa)
4. Gangguan buang air kecil (retensi urin)
5. Pertumbuhan mioma setelah menopause
6. Infertilitas
7. Meningkatnya pertumbuhan mioma (Moore, 2001).
Jenis operasi yang dilakukan pada mioma uteri dapat berupa :
a. Miomektomi
Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma tanpa pengangkatan rahim/uterus
(Rayburn, 2001). Miomektomi lebih sering di lakukan pada penderita mioma uteri
secara umum. Penatalaksanaan ini paling disarankan kepada wanita yang belum
memiliki keturunan setelah penyebab lain disingkirkan (Chelmow, 2005).
b. Histerektomi
Histerektomi adalah tindakan operatif yang dilakukan untuk mengangkat rahim, baik
sebagian (subtotal) tanpa serviks uteri ataupun seluruhnya (total) berikut serviks
uteri (Prawirohardjo, 2001). Histerektomi dapat dilakukan bila pasien tidak
menginginkan anak lagi, dan pada penderita yang memiliki mioma yang
simptomatik atau yang sudah bergejala. Ada dua cara histerektomi, yaitu :
1) Histerektomi abdominal, dilakukan bila tumor besar terutama mioma
intraligamenter, torsi dan akan dilakukan ooforektomi
2) Histerektomi vaginal, dilakukan bila tumor kecil (ukuran < uterus gravid 12
minggu) atau disertai dengan kelainan di vagina misalnya rektokel, sistokel atau
enterokel (Callahan, 2005).
Kriteria menurut American College of Obstetricians Gynecologists (ACOG) untuk
histerektomi adalah sebagai berikut :
1. Terdapatnya 1 sampai 3 mioma asimptomatik atau yang dapat teraba dari luar
dan dikeluhkan oleh pasien.
2. Perdarahan uterus berlebihan, meliputi perdarahan yang banyak dan bergumpal-
gumpal atau berulang-ulang selama lebih dari 8 hari dan anemia akibat
kehilangan darah akut atau kronis.
3. Rasa tidak nyaman di pelvis akibat mioma uteri meliputi nyeri hebat dan akut,
rasa tertekan punggung bawah atau perut bagian bawah yang kronis dan
penekanan pada vesika urinaria mengakibatkan frekuensi miksi yang sering
(Chelmow, 2005).
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis (kanker serviks) dan agen injuri
fisik (jika dilakukan terapi pembedahan)
2. PK : Anemia
3. Cemas b.d krisis situasional (histerektomi atau kemoterapi), ancaman terhadap konsep
diri, perubahan dalam status kesehatan, stres,
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor
biologis (status hipermatebolik berkenaan dengan kanker) dan faktor psikososial
5. Resiko infeksi dengan faktor resiko ketidakadekuatan pertahanan sekunder;
ketidakadekuatan pertahanan imun tubuh; imunosupresi (kemoterapi), dan prosedur
invasi
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit;
keterbatasan kognitif (dilihat dari tingkat pendidikan); misinterpretasi dengan informasi
yang diberikan ; dan tidak familiar dengan sumber informasi
7. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan dan perubahan perkembangan
penyakit
8. Gangguan eliminasi fekal : Konstipasi b.d menurunnya mobilitas intestinal
9. Retensi urin b.d penekanan yang keras pada uretra
C. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
RENCANA KEPERAWATAN
DIANGOSA
KEPERAWATAN TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)
DAN KOLABORASI
Nyeri akut berhubungan NOC : Kontrol Nyeri NIC
dengan agen injuri Setelah dilakukan pemberian Manajemen Nyeri
biologis (kanker serviks) asuhan keperawatan selama …..x Kaji secara komphrehensif tentang
dan agen injuri fisik 24 jam, diharapkan respon nyeri nyeri, meliputi: lokasi, karakteristik,
(jika dilakukan terapi pasien dapat terkontrol dengan durasi, frekuensi, kualitas,
pembedahan) kriteria hasil sebagai berikut : intensitas/beratnya nyeri, dan faktor-
Klien mampu mengenal faktor pencetus
faktor-faktor penyebab nyeri, Observasi isyarat-isyarat verbal dan
beratnya ringannya nyeri, non verbal dari ketidaknyamanan,
durasi nyeri, frekuensi dan meliputi ekspresi wajah, pola tidur,
letak bagian tubuh yang nyeri nasfu makan, aktitas dan hubungan
Klien mampu melakukan sosial.
tindakan pertolongan non- Kolaborasi pemberian analgetik sesuai
analgetik, seperti napas dengan anjuran. Pemberian analgetik
dalam, relaksasi dan distraksi harus memperhatikan hal-hal sebagai
Klien melaporkan gejala- berikut : prinsip pemberian obat 6
gejala kepada tim kesehatan benar (benar nama, benar obat, benar
Klien mampu mengontrol dosis, benar cara, benar waktu
nyeri pemberian, dan benar dokumentasi)
Ekspresi wajah klien rileks Gunakan komunikasi terapeutik agar
Klien melaporkan adanya pasien dapat mengekspresikan nyeri
penurunan tingkat nyeri dalam Kaji pengalaman masa lalu individu
rentang sedang (skala nyeri: 4 tentang nyeri
sampai 6) hingga nyeri ringan Evaluasi tentang keefektifan dari
(skala nyeri : 1 sampai 3) tindakan mengontrol nyeri yang telah
Klien melaporkan dapat digunakan
beristirahan dengan nyaman Berikan dukungan terhadap pasien dan
Nadi klien dalam batas normal keluarga
(80-100x/menit) Berikan informasi tentang nyeri,
Tekanan darah klien dalam seperti: penyebab, berapa lama terjadi,
batas normal (120/80 mmHG) dan tindakan pencegahan
Frekuensi pernafasan klien Ajarkan penggunaan teknik non-
dalam batas normal (12 – 20 farmakologi (seperti: relaksasi, guided
x/menit) imagery, terapi musik, dan distraksi)
Modifikasi tindakan mengontrol nyeri
berdasarkan respon pasien
Anjurkan klien untuk meningkatkan
tidur/istirahat
Anjurkan klien untuk melaporkan
kepada tenaga kesehatan jika tindakan
tidak berhasil atau terjadi keluhan lain
PK : Anemia Setelah dilakukan tindakan Kaji gejala-gejala anemia yang terjadi
keperawatan selama ......x 24 jam, Pantau tanda-tanda anemia yang
perawat dapat meminimalkan terjadi
komplikasi anemia yang terjadi Monitor hasil pemeriksaan lab untuk
dengan kriteria hasil: pemeriksaan kadar Hb, RBC, Hct
Konjungtiva merah muda Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi
Capilary refille ≤ 2 detik makanan yang seimbang, terutama
Mukosa mulut merah muda makanan tinggi kalori dan tinggi
Kadar Hb dbn (wanita protein.
dewasa: 12-14 g/dl), RBC dbn Kolaborasi pemberian suplemen besi
(wanita dewasa: 3,80-5,80 x tambahan, vitamin dan mineral sesuai
105/uL) dan Hct dbn (wanita indikasi
dewasa : 37,0-47,0%) Kolaborasi pemberian transfusi darah
sesuai kebutuhan
monitor efek samping dan respon
pasien setelah dilakukan transfusi
darah
Cemas b.d krisis NOC: Kontrol Cemas NIC
situasional (histerektomi Setelah dilakukan asuhan Menurunkan cemas:
atau kemoterapi), keperawatann kepada pasien Tenangkan pasien dan kaji tingkat
ancaman terhadap selama …... x 24 jam, diharapkan kecemasan pasien
konsep diri, perubahan pasien dapat mengkontrol cemas Jelaskan seluruh prosedur tindakan
dalam status kesehatan, dengan kriteria hasil sebagai kepada pasien dan perasaan yang
stres berikut: mungkin muncul pada saat melakukan
Perawat memonitor tingkat tindakan
kecemasan pasien Berusaha memahami keadaan pasien
Klien mampu menurunkan (rasa empati)
penyebab-penyebab Berikan informasi tentang diagnosa,
kecemasan prognosis dan tindakan dengan
Perawat dan keluarga dapat komunikasi yang baik
menurunkan stimulus Mendampingi pasien untuk
lingkungan ketika pasien mengurangi kecemasan dan
cemas meningkatkan kenyamanan
Klien mampu mencari Dorong pasien untuk menyampaikan
informasi tentang hal-hal yang tentang isi perasaannya
dapat dilakukan untuk Ciptakan hubungan saling percaya
menurunkan kecemasan Bantu pasien menjelaskan keadaan
Klien manpu menggunakan yang bisa menimbulkan kecemasan
strategi koping yang efektif Bantu pasien untuk mengungkapkan
Klien melaporkan kepada hal hal yang membuat cemas dan
perawat penurunan kecemasan dengarkan dengan penuh perhatian
Klien mampu menggunakan Ajarkan pasien teknik relaksasi
teknik relaksasi untuk Anjurkan pasien untuk meningkatkan
menurunkan cemas ibadah dan berdoa
Klien mampu Kolaborasi dengan dokter untuk
mempertahankan hubungan pemberian obat-obatan yang
social, dan konsentrasi mengurangi kecemasan pasien
Klien melaporkan kepada
perawat tidur cukup, tidak ada
keluhan fisik akibat
kecemasan, dan tidak ada
perilaku yang menunjukkan
kecemasan
Ketidakseimbangan NOC : NIC :
nutrisi kurang dari Status nutrisi : intake makanan 1. Manajemen Nutrisi
kebutuhan tubuh dan minuman Kaji adanya alergi makana
berhubungan dengan Setelah dilakukan asuhan Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
faktor biologis (status keperawatann kepada pasien menentukan jumlah nutrisi yang sesuai
hipermatebolik selama …... x 24 jam, diharapkan dengan keadaan pasien
berkenaan dengan status nutrisi meliputi intake Anjurkan pasien untuk meningkatkan
kanker) dan faktor makanan dan minuman membaik intake Fe, protein, karbohidrat, dan
psikososial dengan kriteria hasil sebagai vitamin C
berikut: Berikan diet yang mengandung tinggi
Adanya peningkatan berat serat untuk mencegah konstipasi
badan sesuai dengan tujuan Berikan informasi tentang kebutuhan
Klien mampu nutrisi pasien
mengidentifikasi kebutuhan 2. Monitoring nutrisi
nutrisi Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang
Tidak ada tanda tanda biasa dilakukan
malnutrisi Berikan lingkungan yang nyaman dan
Tidak terjadi penurunan berat bersih selama makan
badan yang berarti Jadwalkan pengobatan dan tindakan
tidak selama jam makan
Monitor kulit kering dan perubahan
pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut kusam,
dan mudah patah
Monitor mual dan muntah
Monitor kadar albumin, total protein,
Hb, dan kadar Ht
Kaji makanan kesukaan
Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan konjungtiva
Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik papila lidah dan cavitas
oral.
Monitor variasi makanan yang
dikonsumsi pasien
Resiko infeksi dengan NOC NIC
faktor resiko Pengetahuan:Kontrol infeksi Kontrol Infeksi
ketidakadekuatan Setelah dilakukan asuhan Bersikan lingkungan setelah
pertahanan sekunder; keperawatann kepada pasien digunakan oleh pasien
ketidakadekuatan selama …... x 24 jam, diharapkan Ganti peralatan pasien setiap selesai
pertahanan imun tubuh; pasien dapat menjelaskan kembali tindakan
imunosupresi cara mengkontrol infeksi dengan Batasi jumlah pengunjung
(kemoterapi), dan kriteria hasil sebagai berikut: Ajarkan cuci tangan untuk menjaga
prosedur invasi Mampu menerangkan cara- kesehatan individu
cara penyebaran infeksi Anjurkan pasien untuk cuci tangan
Mampu menerangkan factor- dengan tepat
faktor yang berkontribusi Gunakan sabun antimikrobial untuk
dengan penyebaran cuci tangan
Mampu menjelaskan tanda- Anjurkan pengunjung untuk mencuci
tanda dan gejala tangan sebelum dan setelah
Mampu menjelaskan aktivitas meninggalkan ruangan pasien
yang dapat meningkatkan Cuci tangan sebelum dan sesudah
resistensi terhadap infeksi kontak dengan pasien
Gunakan universal precautions
Lakukan perawatan aseptic pada
semua jalur IV
Lakukan teknik perawatan luka
dengan memperhatikan prinsip septik
dan aseptik
Anjurkan istirahat
Kolaborasi pemberian terapi antibiotik
dengan memperhatikan prinsip
pemberian obat 6 benar (benar obat,
benar nama, benar dosis, benar waktu,
benar cara pemberian, dan benar
dokumentasi)
Ajarkan pasien dan keluarga tentang
tanda-tanda, gejala dari infeksi dan
cara pencegahan infeksi
Gangguan citra tubuh NOC NIC
berhubungan dengan Meningkatkan citra tubuh, Peningkatan citra tubuh
pembedahan dan Setelah dilakukan asuhan Kaji penerimaan pasien tentang
perubahan keperawatann kepada pasien kondisinya saat ini
perkembangan penyakit selama …... x 24 jam, diharapkan Bantu klien untuk mendiskusikan
citra tubuh atau gambaran tubuh perubahan tubuh akibta penyakit
pasien meningkat dengan kriteria Bantu klien untuk mendiskusikan
hasil sebagai berikut: fungsi tubuh yang terganggu
Pasien mengungkapkan Kaji perasaan klien ketika
penerimaan citra tubuh secara berinteraksi dengan orang lain
verbal maupuan non verbal Kaji persepsi klien dan keluarga
Pasien mampu tentang perubahan tubuh yang terjadi
mempertahankan kontak mata Kaji strategi mengatasi masalah
ketika berkomunikasi (koping) yang digunakan
Pasien mampu melakukan Kaji apakah perubahan gambaran diri
komunikasi terbuka mempengaruhi hubungan sosial klien
Pasien menunjukkan tingkat Bantu klien mengidentifikasi bagian
kepercayaan diri tubuh lain yang bernilai positif
Kaji dukungan sosial yang dimiliki
klien
Gangguan eliminasi NOC NIC : Manajemen Konstipasi
fekal : Konstipasi b.d Buang Air Besar Monitor tanda dan gejala konstipasi
menurunnya mobilitas Setelah dilakukan asuhan Monitor warna, konsistensi, jumlah
intestinal keperawatan kepada pasien selama dan waktu buang air besar
….x 24 jam, diharapkan pasien Konsultasikan dengan dokter tentang
tidak mengalamai gangguan dalam pemberian laksatif, enema dan
buang air besar, dengan kriteria pengobatan
hasil: Berikan cairan yang adekuat
Pasien kembali ke pola dan
normal dari fungsi bowel
Terjadi perubahan pola hidup
untuk menurunkan factor
penyebab konstipasi
Retensi urin b.d NOC NIC: Pemasangan Kateter
penekanan yang keras Inkontinensia urin Menjelaskan prosedur dan rasional
pada uretra Setelah dilakukan asuhan intervensi kateterisasi
keperawaran selama ...x24 jam, Monitore intake dan output
pasien tidak mengalami Menjaga teknik aseptik dalam
inkontinensia urin, dengan kriteria melakukan kateterisasi
hasil: Memelihara drainase urinari secara
Pasien mampu tertutup.
memprekdisikan pola
eliminasi urin
Pasien mampu memulai dan
memghentikan aliran urin
Tidak adanya tanda-tanda
infeksi
Kurang pengetahuan NOC NIC
berhubungan dengan Pengetahuan : proses penyakit Pembelajaran : proses penyakit
kurangnya informasi Pengetahuan : prosedur Kaji tingkat pengetahuan klien tentang
tentang penyakit; perawatan penyakit
keterbatasan kognitif Setelah dilakukan asuhan Jelaskan nama penyakit, proses
(dilihat dari tingkat keperawatann kepada pasien penyakit, faktor penyebab atau faktor
pendidikan); selama …... x 24 jam, diharapkan pencetus, tanda dan gejala, cara
misinterpretasi dengan pasien dapat menjelaskan kembali meminimalkan perkembangan
informasi yang tentang proses penyakit dan penyakit, komplikasi penyakit dan
diberikan ; dan tidak prosedur perawatan dengan cara mencegah komplikas
familiar dengan sumber kriteria hasil sebagai berikut: Berikan informasi tentang kondisi
informasi Pasien mengenal nama perkembangan klien
penyakit, proses penyakit, Anjurkan klien untuk melaporkan
faktor penyebab atau faktor tanda dan gejala kepada petugas
pencetus, tanda dan gejala, kesehatan
cara meminimalkan Pembelajaran : prosedur/perawatan
perkembangan penyakit, Informasikan klien waktu pelaksanaan
komplikasi penyakit dan cara prosedur/perawatan
mencegah komplikasi Informasikan klien lama waktu
Pasien mengetahui prosedur pelaksanaan prosedur/perawatan
perawatan, tujuan perawatan Kaji pengalaman klien dan tingkat
dan manfaat tindakan. pengetahuan klien tentang prosedur
yang akan dilakukan
Jelaskan tujuan prosedur/perawatan
Instruksikan klien utnuk berpartisipasi
selama prosedur/perawatan
Jelaskan hal-hal yang perlu dilakukan
setelah prosedur/perawatan
Ajarkan tehnik koping seperti relaksasi
untuk mengurangi efek dari prosedur
yang dilakukan
DAFTAR PUSTAKA
Achadiat CM. 2004. Prosedur tetap Obstetri dan ginekologi. Jakarta : EGC
Callahan MD MPP, Tamara L. 2005. Benign Disorders of the Upper Genital Tract in Blueprints
Obstetrics & Gynecology. Boston : Blackwell Publishing,
Crum MD, Christopher P & Kenneth R. Lee MD. 2003. Tumors of the
Myometrium in Diagnostic Gynecologic and Obstetric Pathology. Boston : Elsevier
Saunders
Djuwantono T. 2004. Terapi GnRH Agonis Sebelum Histerektomi atau Miomektomi. Farmacia.
Vol III NO. 12. Juli 2004. Jakarta
Mengetahui,