Makalah Kimia - Jumlah Materi Organik Dalam Laut
Makalah Kimia - Jumlah Materi Organik Dalam Laut
Makalah Kimia - Jumlah Materi Organik Dalam Laut
DISUSUN OLEH :
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan
hidayah-Nya yang dilimpahkan kepada saya dalam menyelesaikan makalah yang berjudul
“Jumlah Materi Organik Dalam Laut” diselesaikan pada waktunya.
Saya menyadari bahwa makalah ini sangatlah jauh dari sempurna, hal ini tidak lepas dari
kurangnya pengetahuan serta pengalaman saya dalam menyusun makalah ini. Untuk itu saya tim
dengan terbuka menerima segala kritik dan saran.
Saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi kita
semua khususnya bagi teman-teman mahasiswa program studi Ilmu kelautan Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan Universitas Nusa Cendana.
Kupang
31, Oktober 2021
DAFTAR ISI
BAB I : Pendahuluan
BAB II : Pembahasan
PENDAHULUAN
Indonesia telah dikenal luas sebagai negara kepulauan yang 2/3 wilayahnya adalah lautan
dan mempunyai garis pantai terpanjang di dunia yaitu ± 80.791,42 Km. Didalam lautan terdapat
bermacam-macam mahluk hidup baik berupa tumbuhan air maupun hewan air. Air adalah suatu
zat pelarut yang bersifat sangat berdayaguna, yang mampu melarutkan zat-zat lain dalam jumlah
yang lebih besar dari zat cairnya. Sifat ini dapat dilihat dari banyaknya unsur-unsur pokok yang
terdapat di dalam air laut. Selain itu air laut juga mengandung sejumlah besar gas-gas udara yang
terlarut. Semua gas-gas yang ada di atmosfir dapat dijumpai di dalam air laut walaupun jumlah
terdapat dalam jumlah yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan yang ada di atmosfirKualitas
air laut dikatakan baik atau buruk tergantung pada produktivitasnya.Kondisi ini ditentukan oleh
keberadaan mikro nutrien anorganik khususnya nitrogen dan fosfat. Material organik terlarut
tidak hanya sebagai sumber energi tetapi juga sumber senyawa organik esensial yang tidak dapat
disintesa oleh organisme tersebut. Banyak zat-zat dikeluarkan oleh kehidupan air laut sebagai
ectocrines yang mempercepat atau memperlambat pertumbuhan. Prakash dan Rashid (1968)
dalam Riley dan Chester (1971) menyatakan bahwa pertumbuhan didukung oleh banyaknya
humic acid yang secara ekologi penting dalam perairan pantai.Jumlah bahan organik terlarut
dalam air laut biasanya melebihi rata-rata bahan organik tidak terlarut. Hanya berkisar 1/5 bahan
organik tidak terlarut terdiri dari sel hidup. Semua bahan organik ini dihasilkan oleh organisme
hidup melalui proses metabolisme dan hasil pembusukan.
1.2. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah dengan judul “ Bahan Organik di Laut ” adalah merupakan
salah satu persyaratan dalam menyelesaikan mata kuliah Oseanografi Kimia program studi Ilmu
Kelautan.
BAB II
PEMBAHASAN
Menurut Manahan (2001), elemen, bahan atau materi organik adalah semua senyawa
yang mengandung karbon termasuk substansi yang dihasilkan dari proses hidup (kayu, kapas,
wol), minyak bumi, gas alam (metan), cairan pelarut/pembersih, fiber sintetik dan plastik.
Karbon merupakan bahan dasar dari semua bahan organik. Selain itu, karbon ditemukan
sebagai gas karbondioksida dan sebagai karbonat. Karbon juga terdapat pada bahan bakar fosil
(batu bara, gas alam, dan minyak). Tumbuhan hijau menangkap karbondioksida (CO2) dan
mereduksinya menjadi senyawa organik:
Jumlah oksigen (dalam mg/l atau ppm) yang digunakan mikroorganisme untuk
menguraikan bahan organik yang degradable (dapat terurai) biasanya menjadi tolok ukur
terjadinya pencemaran atau beban bahan organik di perairan. Kriteria ini dikenal sebagai
Biochemical Oxygen Demand (BOD). Sebuah indeks jumlah oksigen yang digunakan organisme
untuk metabolisme makanannya baik secara biologi maupun melalui proses kimiawi. Walaupun
ada yang menterjemahkan BOD sebagai Biological Oxygen Demand akan tetapi sebenarnya
proses yang terjadi bukan hanya proses biologi tapi juga proses kimiawi. Jumlah BOD yang
tinggi menunjukkan banyaknya bahan organik. Bila air memiliki BOD rendah secara umum
berarti jumlah limbah bahan organiknya rendah sepanjang limbahnya adalah limbah yang
degradable .
3. Daur Bahan Organik
Daur bahan organik atau disingkat daur organik di laut sama dengan daur organik di
lingkungan air tawar dan di darat. Karbon (C) bersama-sama dengan unsur hara lainnya seperti
posfor (P) dan nitrogen (N) melalui proses fotosintesis menghasilkan jaringan tumbuh- tumbuhan
yang menjadi makanan hewan. Keduanya akan menghasilkan zat organik dan jika mereka mati
dan membusuk maka akan dihasilkan bahan mentah untuk memulai daur bahan organik lagi
(Romimohtarto dan Juwana, 2001).Unsur hara nitrogen (N) tidak mempunyai hubungan tetap
dengan unsurk hara posfor (P), tetapi bersama-sama dengan karbon (C), N dan P, merupakan
unsur-unsur utama dalam produksi zat organik. Walaupun hara C terdapat dalam jumlah yang
banyak, tetapi kedua unsur hara N dan P menjadi faktor pembatas dalam daur bahan organik di
laut.
2. Atmosfer
Terdiri POM (POC) & Vapourphase Organic Matter/VOM (VOC)
POC :
Viable : Bakteri, Pollen, Algae,yeast, Moulds, Mycoplasma, Virus, Protozoa, &
Nematoda
Non Viable : Kelompok Senyawa Lipid
VOM
Gas Methane (Senyawa Hidrokarbon)
3. Sedimen
Sangat Beragam : Hidrokarbon, As Lemak, As-As Amino, Peptida, Karbohidrat, Polimer
Alami, Kerogen & Materi Humus
Macam – Macam Bahan organik dalam air laut dapat dibagi atas dua bagian yaitu :
Ditemukan oleh Menzel dan Vaccaro (1964) dalam Riley dan Chester (1971)
dengan menyaring sampel, dipindahkan ke sebuah ampul dan diacidified sparging
dengan uap udara bersih untuk memisahkan karbondioksida yang bergabung dengan
keseimbangan asam karbonik. Sampel ini dihilangkan dengan Potasium Peroksidisulfat
(K2S2O8) lalu ampul ditutup. Selanjutnya dipanaskan dengan suhu 130°C dalam sebuah
autoclave selama 1 jam. Setelah dingin autoclave dibuka dan karbondioksida terbentuk
oleh oksidasi dari bahan organik yang diubah dengan helium atau nitrogen, lalu diukur
dengan alat ukur yang terbuat dari infra red absorption atau dengan absorption
chromatography.
Bahan organik nitrogen.
Sebagian besar bahan organik terlarut dalam air laut terdiri atas material yang kompleks
dan sangat tahan terhadap penguraian bakteri.
Kualitas air laut dikatakan baik atau buruk tergantung pada produktivitasnya. Kondisi ini
ditentukan oleh keberadaan mikro nutrien anorganik khususnya nitrogen dan fosfat.
Material organik terlarut tidak hanya sebagai sumber energi tetapi juga sumber senyawa
organik esensial yang tidak dapat disintesa oleh organisme tersebut. Banyak zat-zat
dikeluarkan oleh kehidupan air laut sebagai ectocrines yang mempercepat atau
memperlambat pertumbuhan. Prakash dan Rashid (1968) dalam Riley dan Chester (1971)
menyatakan bahwa pertumbuhan didukung oleh banyaknya humic acid yang secara
ekologi penting dalam perairan pantai. Penghambat pertumbuhan dapat ditemukan dalam
media kultur antara antibiotik dan racun. Zat racun dikeluarkan oleh dinoflagellata seperti
Gynodinium breze dan Gonyoulax polyhedra yang dapat menyebabkan “ red tide”. Zat
polifenol dihasilkan oleh alga coklat menghambat pertumbuhan beberapa spesies dari
alga unicellular. Zat ini mungkin penting secara ekologi menekan pertumbuhan
epiphytes.
Hampir seluruh organik karbon terlarut dalam air laut berasal dari karbondioksida yang
dihasilkan oleh fitoplankton. Konsentrasinya tergantung pada keseimbangan antara rata-
rata organik karbon terlarut yang dibentuk oleh hasil pembusukan, eksresi dan rata-rata
hasil penguraian atau pemanfaatannya. Libes (1971) menyatakan distribusi dissolved
organic matter, particulate organic matter dan organik karbon erat hubungannya dengan
produktivitas primer Produktivitas primer sangat tinggi di daerah pantai dan rendah pada
daerah laut terbuka.
b) Musim semi dan awal musim panas merupakan konsentrasi tertinggi (Ca1,8 mg/ l).
a) Permukaan, konsentrasi bahan organik karbon terlarut dan nitrogen paling tinggi.
c)Pada perairan dalam, kandungan bahan organik karbon terlarut terlihat kecil tetapi
signifikan dan berbeda menurut kedalaman. Perbedaan konsentrasi organik terlarut
dengan nitrogen pada permukaan perairan sekitar 100 : 15 sampai 100 : 25.
2. BAHAN ORGANIK TIDAK TERLARUT DALAM AIR LAUT
Bahan organik tidak terlarut dalam air laut berukuran lebih besar dari 0,5 μm. Pada
lapisan permukaan air laut material organik tak terlarut ini berupa detritus dan
fitoplankton. Pada zona eufotik konsentrasinya lebih tinggi dari lapoisan di bawahnya.
Bahan organik tak terlarut ini berfungsi menyediakan makanan untuk organisme pada
beberapa tingkatan tropik.
Di bawah air sungai (4,2 – 109 gC/ l) berukuran lebih kecil dari rata-rata produksi
primer di laut ( 4 – 1016 gC/ l).
Daerah eufotik.
Bahan organik partikulat di daerah eufotik terdiri dari fitoplankton dan bakteri
bersama dengan detritus. Pertumbuhan lebih baik diperoleh dengan percampuran
dari dua atau lebih spesies dibandingkan satu spesies. Pada kondisi biasa, diatom
mungkin dapat digunakan sebagai makanan pokok kopepoda (Beklemistur, 1954
dalam Riley dan Chester, 1971), tetapi cocolithophores dan dinoflagellata juga
dapat digunakan (Marshall dan Orr, 1952 dalam Riley dan Chester, 1975).Pada
saat fitoplankton melimpah, zooplankton mengkonsumsi lebih banyak
fitoplankton daripada diassimilasi (Beklemishev, 1962 dalam Riley dan
Chester,1971). Saat fitoplankton melimpah detritus berfungsi hanya sebagai
pelengkap makanan zooplankton. Namun disaat zooplankton kurang, detritus
merupakan bagian terbesar makanan binatang di laut (Harvey, 1950., Fox, 1950.,
Roley, 1959 dalam Riley dan Chester, 1971). Pada perairan yang dangkal, banyak
detritus sampai ke dasar laut dimana detritus itu dicerna oleh organisme
dasar.Dekomposisi bakteri menjadi mekanisme dasar bagi detritus, bakteri
menggunakan bahan partikulate untuk suplay energi dan material bagi
protoplasma.Selama proses respirasi dan metabolik CO2, amonia dan ion fosfat
dilepaskan ke dalam air.
Adapun peranan bahan organik di dalam ekologi laut adalah sebagai berikut :
Sumber vitamin
PENUTUP
Kesimpulan
Jumlah bahan organik terlarut dalam air laut biasanya melebihi rata-rata bahan organik
tidak terlarut. Semua bahan organik ini dihasilkan oleh organisme hidup melalui proses
metabolisme dan hasil pembusukan.
Ekresi dari mikroorganisme seperti protozoa merupakan sumber yang penting dari bahan
organik karbon. Proses pelepasan nitrogen dan fospor dari organisme mati dalam air laut terjadi
dengan cepat.
Hampir seluruh organik karbon terlarut dalam air laut berasal dari karbondioksida yang
dihasilkan oleh fitoplankton. Konsentrasinya tergantung pada keseimbangan antara rata-rata
organik karbon terlarut yang dibentuk oleh hasil pembusukan, eksresi dan rata-rata hasil
penguraian atau pemanfaatannya.
DAFTAR PUSTAKA
http://library.usu.ac.id/download/fmipa/Biologi-Miswar.pdf
http://kmit.faperta.ugm.ac.id/KMIT.html
http://itk.fpik.ipb.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=33&Itemid=51
http://www.energi.lipi.go.id
http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/2/e1156511b63cbabf63c4c42978e375015e4eba
2c.pdf
http://www.docstoc.com/docs/10627610/ORGANIK-MATETER-IN-THE-SEA_PPT