0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1 tayangan6 halaman

Bab 1

Diunggah oleh

nadia nurfadila
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online dari Scribd
Unduh sebagai docx, pdf, atau txt
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1 tayangan6 halaman

Bab 1

Diunggah oleh

nadia nurfadila
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online dari Scribd
Unduh sebagai docx, pdf, atau txt
Unduh sebagai docx, pdf, atau txt
Anda di halaman 1/ 6

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan rongga mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh

secara umum yang tidak hanya terkait dengan persoalan estetika, tetapi

juga dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius. Kesehatan gigi

dan mulut sering kali diabaikan dan dijadikan prioritas yang kesekian bagi

sebagian orang. Persentase penduduk di Indonesia yang mengalami

masalah gigi dan mulut menurut data Rikesdas tahun 2018 adalah 56,7%.

Dari penduduk yang mempunyai masalah kesehatan gigi dan mulut,

persentase penduduk di Indonesia yang menerima perawatan dari tenaga

medis gigi hanya 10,2% pada tahun 2018 (Kementerian Kesehatan RI,

2018).

The global Pepsodent telah melakukan survei yang menunjukkan

30% responden di Indonesia mengaku beraktivitas di dalam rumah dan

tidak menggosok gigi sepanjang hari. Selama tidak keluar rumah, mereka

menjadi abai terhadap kesehatan gigi dan mulut. Anak-anak tujuh kali

lebih rentan untuk meniru perilaku tidak menggosok gigi tersebut,

sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang tuanya Orang tua menjadi

role model dalam kehidupan anak, sehingga kebiasaan tidak menyikat

gigi sangat mudah sekali untuk ditiru oleh anak-anak. (Kementerian

Kesehatan Republik Indonesia, 2021).

1
Karies gigi terjadi karena suatu kondisi dimana gigi mengalami

kerusakan yang terjadi secara bertahap. Sebabnya dimulai dari enamel

atau lapisan terluar yang hancur, kemudian dentin atau lapisan tengah

yang terkikis, dan akhirnya menganggu sementum atau akar gigi. Gigi

yang mengalami karies akan mempengaruhi banyak hal jika terus dibiarkan,

terlebih mulut merupakan pintu pertama segala macam kuman dan

bakteri yang berasal dari luar. Karies gigi ditandai dengan lubang yang

akan semakin besar dan dalam, jika gigi dibiarkan mengalami karies,

maka akan menyebabkan banyak gangguan, seperti kesulitan dan

nyeri saat mengunyah makanan, menurunnya kemampuan berbicara,

bau mulut, dan mengalami pembengkakan gusi. Selain itu gigi menjadi

infeksi dan mencapai persyarafan gigi. Hal ini dapat menyebabkan

hilangnya hawa nafsu makan dan malnutrisi jangka panjang. Selain itu

infeksi gigi menjadi jalan masuknya bakteri dan menyebabkan

penyakit lain pada tubuh anak (Asthiningsih & Wijayanti, 2019). Sehingga

membuat anak-anak dengan karies gigi menunjukkan sikap tidak percaya

diri, sulit bergaul, dan tidak mau tersenyum. Hal tersebut selaras

dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013,

kesehatan gigi merupakan bagian integral dari kesehatan tubuh yang

lain. Sehingga jika terjadi kerusakan pada gigi, maka kesehatan tubuh

yang lainnya akan terkena dampaknya juga (Oktaviani et al., 2021).

Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 yang menyatakan

bahwa angka karies gigi anak usia dini di Negara Indonesia masih sangat

tinggi, yaitu sekitar 93% yang mengalami gigi berlubang dan 7% sisanya

2
tidak mengalami kerusakan gigi (Kementerian Kesehatan Republik

Indonesia, 2021) artinya hampir setengah populasi dunia menderita karies

gigi dan yang paling rentan untuk mengalaminya adalah anak usia dini.

Indonesia merupakan negara berkembang yang mempunyai masalaj

kesehatan gigi dan mulut, khususnya penyakit karies gigi, yang

disebabkan oleh miororganisme pada karbohidrat sehingga menyebabkan

demineralisasi jeringan keras gigi. Terjadinya peningkatan penyakit

karies gigi, terutama pada anak-anak terus mengalami peningkatan.

Hasil dari Riset Kesehatan Dasar menujukkan pada tahun 2017 anak

yang karies gigi lebih banyak menggosok gigi dengan 62,8%, dengan

kebiasaan makanan tinggi sukrosa 78,5% dengan status gigi

(Sedangkan pada 2018 diperlihatkan prevalensi gigi berlubang sangat

tinggi sekitar 93%, artinya hanya 7% yang tidak mempunyai kasus karies

gigi. Tahun 2019 karies gigi terjadi pada anak sekitar 67% dengan

yang tidak berisiko sebesar 33%. Tahun 2020 kejadian karies gigi

ditunjukkan hasil bahwa plak (p value 0,08 dengan status plak

yang menyebabkan terjadinya karies gigi. Tahun 2021 pada masa

pandemi COVID-19 sebanyak 75,8% masalah kesehatan gigi disebabkan

kurangnya menggosok gigi dengan baik, semakin tinggi dengan indikasi

aktivitas ke luar rumah yang jarang dilaksanakan menjadi alasan

penyebab utamanya.

Peran orang tua sangat vital dalam pemeliharaan gigi pada anak di

lingkungan rumah. Kedekatan dan hubungan langsung dengan

intensitas waktu yang lama memberi pengaruh yang kuat kepada anak

3
dalam membimbing, memberikan pemahaman, bertindak sebagai

pengawas, dan memberikan saran serta fasilitas kepada anak-anak untuk

menjaga dan memelihara kesehatan gigi. Anak-anak yang baru

memasuki usia sekolah mempunyai risiko karies yang tinggi,

dikarenakan adanya pengaruh yang signifikan dari lingkungan

terdekatnya. Kebiasaan jajan, makan, dan minum sesuai keinginan yang

kurang mendapatkan pengawasan dan perhatian dari orang tua akan

berpotensi besar terhadap risiko terjadinya penyakit karies gigi pada

anak. Pentingnya pola asuh, kesadaran, dan minimnya pengetahuan

orang tua untuk menjaga kesehatan gigi pada anak, menjadi sebuah

keharusan untuk diperhatikan. Pola asuh orang tua melalui kebiasaan,

keteladanan, dan cara membimbing anak cenderung akan ditiru dan

secara sadar ataupun tidak akan diresapi, dipahami, dan akan menjadi

kebiasaan yang juga ditirukan oleh anak-anak.

Posyandu Anggrek di desa Karang Agung Kec Lubai Ulu Kab Muara

Enim yang menjadi agenda rutin setiap bulan sekali pada minggu ke dua

dan mengadakan kegiatan kesehatan berupa pengecekan

timbang badan,imunisasi, penyuluhan kepada ibu-ibu hamil dan

menyusui, dan juga pemeriksaan kondisi kesehatan terhadap balita.

Jumlah balita yang terdapat di Posyandu Merpati desa Sukamerindu terdiri

dari 22 orang balita yang menjadi anggota dengan hasil wawancara 10 ibu

didapatkan 12 balita mempunyai penyakit karies.

Beberapa masalah di atas menjadi alasan yang sangat menarik

untuk diteliti, yaitu untuk mengetahui bagaimana peran orang tua dalam

4
merawat kesehatan gigi anak usia dini sebagai upaya perawatan yang

tepat untuk anak menjaga giginya agar tetap sehat dan upaya

pengobatan jika anak sudah mengalami karies agar tidak semakin

parah.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana kondisi gigi anak usia dini di Posyandu A n g g r e k d e s a

Karang Agung ?

2. Bagaimana peran orang tua dalam mencegah gigi anak usia dini agar

tidak

mengalami karies di Posyandu Anggrek desa Karang Agung?

3. Bagaimana peran orang tua dalam merawat gigi anak usia dini

yang

mengalami karies di Posyandu Anggrek desa Karang Agung ?

C. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui kondisi gigi yang dialami oleh anak usia dini di

Posyandu

5
Anggrek desa Karang Agung.

2. Mengetahui peran orang tua dalam merawat gigi sehat untuk

mencegah

terjadinya karies pada anak usia dini.

3. Mengetahui peran orang tua dalam merawat kesehatan gigi anak usia

dini

yang mengalami karies.

D. Manfaat Penelitian

Memberikan gambaran tentang bagaimana peran orang tua dalam

merawat gigi anak usia dini untuk menjaga gigi anak tetap sehat

dan upaya penanganan jika gigi anak mengalami karies gigi,

sehingga dapat memberikan rekomendasi atau pedoman yang tepat.

Anda mungkin juga menyukai