0% found this document useful (0 votes)
15 views10 pages

Bab I

This document provides an introduction and background to a study on the effects of progressive muscle relaxation therapy on blood pressure in hypertension patients. It discusses hypertension as a major health problem, risk factors for hypertension like obesity and smoking, and complications that can arise if untreated like stroke and kidney failure. Previous studies have found progressive muscle relaxation effective in lowering blood pressure. The study aims to determine if progressive muscle relaxation therapy can reduce blood pressure in middle-aged and elderly hypertension patients.

Uploaded by

nurmultazam
Copyright
© © All Rights Reserved
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
Download as pdf or txt
0% found this document useful (0 votes)
15 views10 pages

Bab I

This document provides an introduction and background to a study on the effects of progressive muscle relaxation therapy on blood pressure in hypertension patients. It discusses hypertension as a major health problem, risk factors for hypertension like obesity and smoking, and complications that can arise if untreated like stroke and kidney failure. Previous studies have found progressive muscle relaxation effective in lowering blood pressure. The study aims to determine if progressive muscle relaxation therapy can reduce blood pressure in middle-aged and elderly hypertension patients.

Uploaded by

nurmultazam
Copyright
© © All Rights Reserved
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
Download as pdf or txt
Download as pdf or txt
You are on page 1/ 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah diatas normal terjadi

pada seseorang yang ditunjukkan oleh systolic dan diastolic pada

pemeriksaan tekanan darah dengan menggunakan sphygmomanometer

ataupun alat digital lainnya (Wahda, 2011). Hipertensi adalah penyakit yang

tidak menunjukkan tanda serta gejala pasti, biasanya penderita menyadari

apabila telah mengganggu organ tubuh yang lain seperti gangguan fungsi

jantung hingga stroke (Udjianti dalam Ernawati, 2013). James, et al (2014)

mengemukakan bahwa hipertensi merupakan masalah kesehatan yang sering

muncul dalam pelayanan kesehatan dan dapat menyebabkan kematian apabila

penderita tidak di deteksi sejak dini.

Hipertensi lebih banyak terjadi pada lanjut usia, hal tersebut terjadi

karena proses penuaan yang menyebabkan adanya perubahan pada sistem

kardiovaskular baik struktural maupun fisiologi. Terjadinya penyakit jantung

hipertensi sebesar 33,3 % yaitu 81 orang dari 243 orang tua berusia 50 tahun

ke atas (Arifin, 2009 dalam Suratini, 2013). Hipertensi dapat terjadi pada

lansia dan juga pada dewasa (Adib, 2009). Menurut WHO (2013) seseorang

dikatakan hipertensi apabila tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg.

Prevalensi penderita hipertensi pada usia 25 tahun dan lebih mencapai 40.

1
2

Hipertensi merupakan salah satu dari 10 penyakit beresiko di seluruh

dunia dan salah satu dari 5 penyakit yang berisiko di negara berkembang

(WHO, 2013). Menurut Riset Kesehatan Dasar (2013) penyakit hipertensi

masih menjadi tantangan besar di Indonesia dengan prevalensi yang tinggi,

yaitu sebesar 25,8 % dan pengontrolan hipertensi belum adekuat meskipun

obat-obat yang efektif banyak tersedia. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

merupakan peringkat ke 14 terjadinya hipertensi dengan angka kejadiannya

25,7 %. Kejadian hipertensi di kabupaten Gunung Kidul (33,5%), Kota

Yogyakarta (27,7%), Kabupaten Progo (27,3%) serta Kabupaten Bantul

(20,8%).

Terjadinya hipertensi disebabkan oleh beberapa faktor yaitu obesitas,

stress, merokok, dan mengkonsumsi alkohol (WHO, 2013). Dalam

pandangan agama islam terdapat ayat Al-Quran membahas tentang merokok

dan mengkonsumsi alkohol, sesuai dengan firman Allah SWT:

‫ل‬

”Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu


menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS Al-
Baqarah: 195).

Pernyataan yang terdapat dalam ayat ini adalah merokok dan konsumsi

alkohol dapat menjerumuskan seseorang dalam kebinasaan karena dapat

merusak sistem organ di dalam tubuh sehingga muncul beberapa penyakit

termasuk hipertensi. Seseorang yang mengkonsumsi alkohol dan rokok akan

lebih banyak mendapatkan kerugiannya.


3

Pola makan yang salah dapat menyebabkan faktor terjadinya hipertensi,

seperti makanan yang sering diawetkan, konsumsi garam dapur yang

berlebihan serta bumbu penyedap MSG (Monosodium Glutamat) dalam

jumlah banyak (Situmorang, 2015). Di dalam Al Quran surah Al A’raf ayat

31 menyatakan:

”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki)


mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Telah dijelaskan pada ayat diatas bahwa jangan makan atau minum

berlebihan, karena dapat mendatangkan penyakit pada diri kita. Makan

makanan yang bergizi serta mengurangi proporsi dalam makanan seperti

garam sehingga mampu membantu dalam menurunkan tekanan darah.

Hipertensi akan memunculkan gejala-gejala, seperti sakit kepala,

jantung berdebar, kesulitan bernafas setelah melakukan aktivitas yang berat,

mudah lelah, penglihatan kabur, tinitus, dan vertigo (Situmorang, 2015).

Penyakit hipertensi apabila tidak ditangani akan menimbulkan beberapa

komplikasi seperti kerusakan pembuluh darah pada otak (stroke) dan ginjal

(gagal ginjal), hal tersebut terjadi apabila tekanan darah tinggi dan jantung

akan bekerja lebih keras lagi sehingga akan menyebabkan kerusakan serius

dan menyebabkan otot jantung menebal (hipertrofi), akibatnya fungsi jantung

untuk memompa terganggu maka jantung akan mengalami dilatasi dan

kemampuan kontraksinya berkurang (Herlambang, 2013).


4

Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan dengan fakmakologi dan

non farmakologi. Penatalaksanaan non famakologi yang dapat dilakukan

untuk mengatasi hipertensi antara lain mengurangi berat badan pada penderita

dengan berat badan berlebih, mengurangi konsumsi rokok, mengatur pola

makan terutama diet dalam konsumsi garam, olahraga secara teratur,

mengontrol stres, serta memperbaiki gaya hidup (Sutanto, 2010). Terapi non

farmakologi lain yang dapat digunakan untuk mengatasi penyakit hipertensi,

yaitu dengan menggunakan progressive muscle relaxation. Terapi ini dapat

membantu individu menjadi lebih rileks dan tenang sehingga mampu

mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan (Ayunani dan Alie,

2016).

Progressive muscle relaxation merupakan suatu tehnik yang dapat

mengencangkan serta melemaskan otot-otot dalam tubuh yang disebabkan

stres, kecemasan, maupun ketegangan pada otot sehingga dapat memberikan

rasa rileks secara fisik (Vidyanti dan Syarifah, 2016). Progressive muscle

relaxation dilakukan dengan cara memfokuskan perhatian seseorang untuk

melakukan aktivitas otot sehingga dapat membuat otot-otot yang tegang

mejadi rileks, sehingga memiliki manfaat dalam menurunkan resistensi

perifer dan menaikkan elastisitas pembuluh darah. Progressive muscle

relaxation dapat memperlebar pembuluh darah dalam tubuh sehingga mampu

menurunkan tekanan darah secara langsung (Sucipto, 2014).

Penelitian yang dilakukan Ayunani dan Alie, (2016) dengan judul

“Pengaruh Latihan Relaksasi Otot Progresif Terhadap Tekanan Darah Pada


5

Lanjut Usia Dengan Hipertensi Di Upt Pslu Mojopahit Kabupaten

Mojokerto” menunjukkan hasil bahwa progressive muscle relaxation

memiliki pengaruh untuk menurunkan tekanan darah. Penelitian yang

dilakukan Suratini (2013) dengan judul ”Pengaruh Relaksasi Progresif

Terhadap Tingkat Tekanan Darah Pada Lansia Hipertensi” juga menyatakan

ada perbedaan tingkat tekanan darah sistole dan diastole sebelum dan sesudah

dilakukan relaksasi progresif.

Studi pendahuluan yang peneliti lakukan di Puskesmas Pleret dengan

hasil sebanyak 63 orang mengalami penyakit hipertensi. Terdapat 24 orang

penderita hipertensi dengan usia diatas 60 tahun, 23 orang mengalami

hipertensi pada usia pertengahan, dan 16 orang lainnya penderita hipertensi

usia dibawah 45 tahun. Pada penderita hanya diberikan terapi berupa obat anti

hipertensi dan belum pernah dilakukan terapi berupa relaksasi.

Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

tentang Pengaruh Progressive Muscle Relaxation Terhadap Tekanan Darah

Pada Penderita Hipertensi. Dalam penelitian ini akan dilakukan pengujian

pengaruh dari Progressive Muscle Relaxation terhadap penderita hipertensi.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dari yang telah diuraikan, maka rumusan

masalah yang diajukan adalah “Bagaimana pengaruh Progressive muscle

relaxation terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi?”.


6

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Perbandingan Pengaruh

Progressive Muscle Relaxation Terhadap Penurunan Tekanan Darah

Pada Penderita Hipertensi.

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk :

a. Mengetahui data demografi.

b. Mengetahui tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum dilakukan

terapi progressive muscle relaxation pada penderita hipertensi usia

pertengahan.

c. Mengetahui tekanan darah sistolik dan diastolik sesudah dilakukan

terapi progressive muscle relaxation pada penderita hipertensi usia

pertengahan .

d. Mengetahui tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum dilakukan

terapi progressive muscle relaxation pada penderita hipertensi

lansia.

e. Mengetahui tekanan darah sistolik dan diastolik sesudah dilakukan

terapi progressive muscle relaxation pada penderita hipertensi

lansia

f. Mengetahui perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah terapi

progressive muscle relaxation pada usia pertengahan.


7

g. Mengetahui perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah terapi

progressive muscle relaxation pada lansia..

h. Mengetahui pengaruh progressive muscle relaxation terhadap

penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi usia

pertengahan dan lansia.

i. Mengetahui perbedaan tekanan darah antara usia pertengahan dan

lansia sebelum dan sesudah dilakukan progressive muscle

relaxation.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Profesi Keperawatan

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan mutu dalam pelayanan

kesehatan dan sebagai pertimbangan untuk mengambil kebijakan dalam

menangani penderita hipertensi dari segi terapi non farmakologi.

2. Bagi Responden

Responden dapat mengaplikasikan progressive muscle relaxation sebagai

salah satu terapi hipertensi bagi dirinya.

3. Bagi Peneliti

Peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian tentang tehnik lain

yang dapat digunakan untuk membantu menurunkan tekanan darah pada

penderita hipertensi.
8

4. Bagi masyarakat

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang pentingnya

terapi non farmakologi progressive muscle relaxation untuk mengatasi

hipertensi.

5. Bagi Instansi

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan informasi

kepada pelayanan kesehatan untuk menerapkan progressive muscle

relaxation dalam merawat penderita hipertensi.

E. Keaslian Penelitian

Penelitian ini merujuk pada penelitian-penelitian yang telah dilakukan

sebelumnya, yaitu:

1. Kanender, et al (2015) melakukan penelitian tentang Pengaruh Terapi

Relaksasi Otot Progresif Terhadap Perubahan Tingkat Insomnia Pada

Lansia Di Panti Werdha Manado. Metode Penelitian: Penelitian

menggunakan desain pra experimental dengan menggunakan one group

pretest-posttest design. Variabel Independen penelitian adalah relaksasi

otot progresif dan Variabel Dependen penelitian adalah Tingkat Insomnia

Pada Lansia. Populasi penelitian adalah semua lansia yang mengalami

insomnia di Panti Werdha Manado sebanyak 36 orang dengan teknik

pengambilan sampel Total Sampling. Hasil Penelitian: Dilakukan

pengujian dengan uji statistik Wilcoxon dan didapatkan nilai p = 0,000 <

α = 0,05 dengan arti adanya pengaruh terapi relaksasi otot progresif

terhadap perubahan tingkat insomnia pada lansia Di Panti Werdha


9

Manado. Perbedaan pada penelitian ini dengan penelitian Kanender, et al

(2015) terletak pada judul, variabel dependen, sampel, waktu penelitian,

dan tempat penelitian. Penelitian ini menggunakan desain quasi

eksperimental serta pengambilan sampel menggunakan convinience

sampling. Persamaan pada penelitian ini adalah menggunakan variabel

independen relaksasi otot progresif.

2. Sucipto (2014) melakukan penelitian tentang Pengaruh Teknik Relaksasi

Otot Progresif Terhadap Tekanan Darah Pada Lansia Dengan Hipertensi

Di Desa Karangbendo Banguntapan Bantul Yogyakarta. Metode

Penelitian: Penelitian menggunakan Quasi Experimental dengan

rancangan penelitian Non Equivalen Control Group. Responden

berjumlah 36 orang diambil dengan menggunakan tehnik pengambilan

sampel Proportional Random Sampling. Hasil Penelitian: Penelitian

menggunakan uji statistik Wilxocon dan memperoleh hasil dengan nilai

p-value = 0,000 (0,000 < 0,05) pada tekanan darah sistolik dan p-value =

0,083 (0,083 > 0,05) pada tekanan darah diastolik yang memiliki arti ada

pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tekanan darah.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian Sucipto (2014) adalah judul,

variabel dependen, sampel, waktu penelitian, tempat penelitian, tehnik

pengambilan sampel, dan rancangan penelitian. Persamaan pada

penelitian ini adalah menggunakan desain quasi eksperimental.

3. Vidyanti dan Syarifah (2016) melakukan penelitian tentang Pengaruh

Relaksasi Otot Progresif Terhadap Insomnia Pada Lansia Di Upt Panti


10

Werdha Mojopahit Kabupaten Mojokerto. Metode Penelitian: Penelitian

menggunakan desain pra experimental dengan menggunakan rancangan

one group pretest-postest design. Populasi penelitian sebanyak 20 orang,

alat ukur penelitian dengan menggunakan kuesioner. Data yang

terkumpul dianalisis dengan uji statistik wilcoxon sign rank test. Hasil

Penelitian: penelitian menggunakan analisa data wilcoxon sign rank test

dengan taraf signifikan α = 0,05 diperoleh hasil perhitungan t-hitung

sebesar 3,464 dan t-tabel sebesar 1,96. Sehingga t-hitung lebih besar dari

t-tabel yang berarti bahwa ada pengaruh relaksasi otot progresif terhadap

insomnia pada lansia. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian

Vidyanti dan Syarifah (2016) adalah judul, variabel dependen, tempat

penelitian, jumlah populasi yang diteliti, dan teknik pengambilan sampel.

Persamaannya adalah menggunakan rancangan one group pretest-postest

design dan kelompok intervensi berfokus pada lansia.

You might also like