Falsafah Dan Teori Keperawatan Watson

Unduh sebagai doc, pdf, atau txt
Unduh sebagai doc, pdf, atau txt
Anda di halaman 1dari 15

TUGAS

FALSAFAH DAN TEORI KEPERAWATAN WATSON

OLEH :
Kelompok

1. AYMA SEPSI FATHONA


2. DEDI RIYADI
3. NUR WULANDARI
4. SILVIA
5. TRI HARI SAPUTRA

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)
MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberi rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah tentang Model Konsep
Dan Teori Keperawatan Watson ini dapat terselesaikan. Makalah ini diajukan
guna memenuhi tugas mata kuliah Falsafah dan Teori Keperawatan. Saya
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga
makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Makalah ini masih jauh
dari sempurna, oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan
bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Pringsewu, September 2017


Penulis

Kelompok

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................ii
DAFTAR ISI......................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................1
A. LATAR BELAKANG....................................................................................1
B. RUMUSAN MASALAH...............................................................................2
C. TUJUAN.........................................................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................2


A. Falsafah Keperawatan Watson.....................................................................2
B. Teori Keperawatan Watson..........................................................................2

BAB IV PENUTUP...........................................................................................10
A. KESIMPULAN..............................................................................................10
B. SARAN.........................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................14

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Di dunia, kesehatan merupakan hal yang mutlak untuk dimiliki oleh setiap
manusia. Oleh sebab itu maka didirikanlah sebuah Organisasi Kesehatan Dunia
(World Health Organization/WHO) adalah salah satu badan PBB yang bertindak
sebagai koordinator kesehatan umum internasional dan bermarkas di Jenewa,
Swiss. WHO didirikan oleh PBB pada 7 April 1948. Direktur Jendral sekarang
adalah Margaret Chan menjabat mulai 8 November 2006. Menurut WHO (1947)
Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara
fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan
(WHO, 1947). Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut
yang dapat meningkatkan konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle. 1994)
: Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh, memandang
sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal, dan
penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup. Tidak hanya
organisasi kesehatan saja didirikan untuk memajukan kesehatan maka butuhlah
tenaga atau profesi keperawatan sehingga profesi keperawatan berkembang
karena tuntutan masyarakat serta kebutuhan keperawatan kesehatan dan
kebijakan. Keperawatan berespons dan beradaptasi terhadap perubahan,
memenuhi tantangan baru yang timbul.
Keperawatan sebagai bagian intergral dari pelayanan kesehatan, ikut
menentukan menentukan mutu dari pelayanan kesehatan. Tenaga keperawatan
secara keseluruhan jumlahnya mendominasi tenaga kesehatan yang ada, dimana
keperawatan memberikan konstribusi yang unik terhadap bentuk pelayanan
kesehatan sebagai satu kesatuan yang relatif, berkelanjutan, koordinatif dan
advokatif. Keperawatan sebagai suatu profesi menekankan kepada bentuk
pelayanan professional yang sesuai dengan standart dengan memperhatikan
kaidah etik dan moral sehingga pelayanan yang diberikan dapat diterima oleh
masyarakat dengan baik.

4
B. RUMUSAN MASALAH
Apa yang dimaksud falsafah keperawatan ?
Jelaskan tentang Teori keperawatan menurut Watson ?

C. TUJUAN
a. Tujuan Umum
Memberikan pemahaman tentang Falsafah dan Teori Keperawatan
Dorothea Watson

b. Tujuan Khusus
1. Menjelaskan falsafah keperawatan
2. Menjelaskan teori keperawatan menurut Watson

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Falfasah Keperawatan Menurut Watson


Human care is the heart of nursing (Watson: 1985)
Keperawatan sebagai sains tentang human care didasarkam pada asumsi
bahwa human science and human care merupakan domain utama dan
menyatukan tujuan keperawatan. Sebagai human science keperawatan
berupaya mengintegrasikan pengetahuan empiris dengan estetika, humanities,
dan kiat/art (Watson, 1985).
Dalam pandangan keperawatan manusia dilihat sebagai sosok yang utuh.
Karena keutuhan ini maka manusia itu unik, berbeda dari manusia lain.
Manusia juga diyakini sebagai sistem terbuka (openned system), yang
berinteraksi dengan manusia lain dan lingkungannya secara dinamis, dan
berkesinambungan itu semua penting untuk perkembangan personalnya.

Sebagai pengetahuan tentang human care fokusnya untuk mengembangkan


pengetahuan yang menjadi inti keperawatan, seperti yang dinyatakan oleh
Watson (1985) human care is the heart of nursing. Pandangan tentang
keperawatan sebagai science tentang human care adalah komprehensif. Ini
termasuk pengembangan pengetahuan sebagai basis dalam area:
1. Pengkajian terhadap kondisi manusia.
2. Implikasi dari pengalaman manusia dan responnya terhadap kondisi
sehat sakit.
3. Telaah terhadap pengelolaan kondisi-kondisi yang menyertainya.

2
4. Deskripsi dari atribut-atribut caring relationship.
5. Studi tentang sistem bagaimana human care harus diwujudkan.

B. Teori Keperawatan Menurut JeanWatson


A. Manusia sebagai Fokus Sentral Keperawatan

Filosofi Watson tentang asuhan keperawatan (1979,1985,1988)


berupaya untuk mendefinisikan hasil dari aktivitas keperawatan yang
berhubungan dengan aspek humanistik dari kehidupan (Watson 1979;
Marriner-Tomey, 1994). Tindakan keperawatan mengacu langsung pada
pemahaman hubungan antara sehat, sakit dan perilaku manusia. Keperawatan
memperhatikan peningkatan dan mengembalikan kesehatan serta penegahan
penyakit.

Model Watson di bentuk melingkupi proses asuhan keperawatan,


pemberian bantuan bagi klien dalam mencapai kematian yang damai.
Intervensi keperawatan berkaitan dengan proses perawatan manusia.
Perawatan manusia membutuhkan perawat yang memahami perilaku dan
respons manusia terhadap masalah kesehatan yang aktual ataupun potensial,
kebutuhan manusia dan bagaimana respons terhadap orang lain dan
memahami kekurangan dan kelebihan klien dan keluarganya, sekaligus
pemahaman pada dirinya sendiri. Selain itu perawat juga memberikan
kenyamanan pada perhatian serta empati pada klien dan keluarganya.

Menurut Watson, Asuhan keperawatan tergambar pada seluruh faktor-


faktor yag digunakan oleh perawat dalam pemberian pelayanan keperawatan
pada klien (A. Azis Alimul Hidayat 2002).

Keperawatan sebagai sains tentang human care didasarkan pada


asumsi bahwa human science and human care merupakan domain utama dan
menyatukan tujuan keperawatan. Sebagai human science keperawatan
berupaya mengintegrasikan pengetahuan empiris dengan estetia, humanities
dan kiat/art (Watson,1985). Sebagai pengetahuan tentang human care

3
fokusnya untuk mengembangkan pengetahuan yang menjadi inti keperawatan,
seperti dinyatakan oleh Watson (1985) " human care is the heart of nursing".

Dalam pandangan keperawatan manusia diyakini sebagai person as a


whole, as a fully functional integrated self. Dalam konsep holism ini, manusia
dilihat sebagai sosok yang utuh, .."the human is viewed as greater than, and
different from, the sum of his or her parts . (Watson,1985:14) yang
bermakna bahwa keberadaan berbagai aspek dari diri seorang manusia, secara
bersama-sama berfungsi dan berespon untuk mewujudkan keutuhannya.
Karena keutuhan ini maka manusia itu unik, berbeda dari manusia lain.
Manusia juga diyakini sebagai sistem terbuka (openned system), yang
berinteraksi dengan manusia lain dan lingkungannya secara dinamis,
berkesinambungan dan itu semua penting untuk perkembangan personalnya.
Pandangan dasar tentang manusia ini, yang dalam paradigma keperawatan
merupakan fokus sentral pada saatnya memberi arah pada eksplorasi tentang
human science , human responses (to health and illness) dan human care serta
menuntun perawat untuk memahami dan memperlakukan manusia lain (klien)
secara utuh, unik dan manusiawi.

Jean Watson dalam memahami konsep keperawatan terkenal dengan


teori pengetahuan manusia dan merawat manusia. Tolak ukur pandangan
Watson ini didasari pada unsur teori kemanusiaan. Teori JW ini memahami
bahwa manusia memiliki empat cabang kebutuhan yang saling berhubungan,
diantaraanya:

1. Kebutuhan Dasar Biofisikal (Kebutuhan untuk hidup) yang meliputi


kebutuhan Makan dan Cairan, Kebutuhan Eliminasi, dan Kebutuhan Ventilasi
2. Kebutuhan Dasar Psikofisikal (Kebutuhan Fungsional) yang meliputi
Kebutuhan Aktifitas dan Istirahat, serta Kebutuhan Sexualitas.
3. Kebutuhan dasar Psikososial (Kebutuhan untuk Integrasi) yang meliputi
Kebutuhan untuk Berprestasi dan Berorganisasi
4. Kebutuhan dasar Intrapersonal dan Interpersonal (Kebutuhan untuk
Pengembangan) yaitu Kebutuhan Aktualisasi Diri.

4
Skema Kebutuhan Dasar menurut J.Watson :

Berdasarkan 4 kebutuhan tersebut, Jean Watson memahami bahwa


manusia adalah makhluk yang sempurna yang memiliki bermacam-macam
perbedaan, sehingga dalam upaya mencapai kesehatan manusia seharusnya
dalam keadaan sejahtera, baik fisik, mental, dan spiritual karena sejahtera
merupakan keharmonisan antara pikiran, badan dan jiwa sehingga untuk
mencapai keadaan tersebut keperawatan harus berperan dalam meningkatkan
status kesehatan, mencaegah terjadinya penyakit, mengobati berbagai penyakit
dan penyembuhan kesehatan dan fokusnya pada peningkatan kesehatan dan
pencegahan penyakit.

5
B. Sehat Dan Kesehatan

Watson (1985:48) menyatakan " sehat sebagai unity and harmony


within the mind,body and soul. Its also associated with the degree of
congruence between the self as perceived and the self as experienced, such a
viewed of health focuses on the entire nature of the individual in his or her
physical, social, esthetic and moral realms-instead of just certain aspects oh
human behavior and physiology."
Definisi tersebut mengungkap bahwa sehat merupakan kondisi yang
utuh dan selaras antara badan,pikiran dan jiwa; dan ini berkaitan dengan
tingkat kesesuaian antara diri yang dipersepsikan dan diri yang diwujudkan.
Pandangan tentang kesehatan berfokus pada individu secara utuh meliputi
hal-hal yang bersifat fisik,sosial,etis dan moral, tidak sekedar berfokus pada
aspek-aspek perilaku dan fisiologi manusia semata.

Dari beberapa konsep sehat (dan sakit/illness) diatas dapat dikemukakan


beberapa hal prinsip antara lain :
1) Sehat menggambarkan suatu keutuhan kondisi seseorang yang sifatnya
multidimensional, yang dapat berfluktuasi tergantung dari interrelasi
antara faktor-faktor yang mempengaruhi.
2) Kondisi sehat dapat terwujud bila kebutuhan dasar manusiawinya
terpenuhi.
3) Kondisi sehat dapat dicapai karena adanya kemampuan seseorang untuk
beradaptasi terhadap lingkungan baik internal maupun eksternal.
4) Sehat tidak dapat dinyatakan sebagai suatu kondisi yang berhenti pada
titik tertentu, tetapi berubah-ubah tergantung pada kapasitasnya untuk
berfungsi pada lingkungan yang dinamis.
5) Sehat sebagai suatu kondisi keseimbangan yang dinamis antara bentuk dan
fungsi tubuh (manusia) karena keberhasilannya menyesuaikan diri
terhadap pengaruh-pengaruh yang dapat mengganggu(agent,environment).

C. Carrative Factor

6
Carative Factor menurut Watson adalah mencoba menghargai dimensi
manusia dalam perawatan dan pengalaman-pengalaman subjektif dari orang
yang kita rawat.

Elemen-elemen yang terdapat dalam carative faktor adalah :


1. Nilai-nilai kemanusiaan dan altruistic (Humanistic-Altruistic System
Values)
2. Keyakinan dan harapan (Faith and Hope)
3. Peka pada diri sendiri dan kepada orang lain (Sensitivity to self and
others)
4. Membantu menumbuhkan kepercayaan,membuat hubungan dalam
perawatan secara manusiawi
5. Pengekspresian perasaan positif dan negative
6. Proses pemecahan masalah perawatan secara kreativ (creative problem-
solving caring process)
7. Pembelajaran secara transpersonal (transpersonal teaching learning)
8. Dukungan,perlindungan,perbaikan fisik,mental,social dan spiritual
9. Bantuan kepada kebutuhan manusia (Human needs assistance
10. Eksistensi fenomena kekuatan spiritual.

Dari kesepuluh carrative faktors diatas, caring dalam keperawatan


menyangkut upaya memperlakukan klien secara manusiawi dan utuh sebagai
manusia yang berbeda dari manusia lainnya (Watson,1985). Ini berkenaan
dengan proses yang humanitis dalam menentukan kondisi terpenuhi tidaknya
kebutuhan dasar manusia dan melakukan upaya pemenuhannya melalui
berbagai bentuk intervensi yang bukan hanya berupa kemampuan teknis tetapi
disertai warmth, kindness, compassion.

D. Clinical Caritas Process


Watson kemudian memperkenalkan Clinical Caritas Process (CCP),
untuk menempatkan carative faktor-nya,yang berasal dari bahasa yunani
cherish,yang berarti memberi cinta dan perhatian khusus. Jadi Clinical
Caritas Process adalah suatu praktek perawatan pasien dengan sepenuh hati
kesadaran, dan cinta. Merawat pasien dengan penuh kesadaran,sepenuh hati
dan cinta. hadir secara jiwa dan raga,supportif dan mampu mengekspresikan

7
perasaan negative dan positif dari dasar-dasar nilai spiritual diri dalam
hubunganya dengan pasien sebagai one-being-cared-for. Budidaya nilai
spiritual dan transpersonal,melampaui diri sendiri dan supaya lebih terbuka
peka dan iba. kreatif menggunakan diri dan segala cara dalam proses
perawatan,secara artistk,sebagai bagian dari caring-healing-practice.
menciptakan lingkungan penyembuhan di semua level,f isik dan non fisik,
dengan penuh kesadaran dan keseluruhan, yang memperhatikan keindahan,
kenyamanan, kehormatan dan kedamaian. Terlibat dalam proses pengalaman
belajar mengajar, yang dihadirkan sebagai kesatuan menjadi dan berarti
(being and meaning), dan mencoba melihat dan mengacu pada kerangka
berfikir orang lain.

E. Transpersonal Caring Relationship


Menurut Watson (1999), Transpersonal Caring Relationship itu
berkarakteriskkan hubungan khusus manusia yang tergantung pada: Moral
perawat yang berkomitmen melindungi dan meningkatkan martabat manusia
seperti dirinya atau lebih tinggi dari dirinya.
Perawat merawat dengan kesadaran yang dikomunikasikan untuk
melestarikan dan menghargai spiritual ,oleh karena itu tidak memperlakukan
seseorang sebagai sebuah objek. Perawatan berkesadaran bahwa mempunyai
hubungan dan potensi untuk menyembuhkan sejak,hubungan,pengalaman dan
persepsi sedang berlangsung. Hubungan ini menjelaskan bagaimana perawat
telah melampaui penilain secara objektif,menunjukkan perhatian kepada
subjektifitas seseorang, dan lebih mendalami situasi kesehatan diri mereka
sendiri. Kesadaran perawat menjadi perhatian penting untuk keberlanjutan dan
pemahaman terhadap persepsi orang lain.
Pendekatan ini menyoroti keunikan dari kedua belah pihak,yaitu
perawat dan pasien,dan juga hubungan saling mneguntungkan antara dua
individu,yang menjadi dasar dari suatu hubungan. Oleh karena itu,yang
merawat dan yang di rawat keduanya terhubung dalam mencari makna dan
kesatuan,dan mungkin mampu merasakan penderitaan pasien.
Istilah transpersonal berarti pergi keluar diri sendiri dan
memungkinkan untuk menggapai kedalaman spiritual dalam meningkatkan

8
kenyamanan dan penyembuhan pasien. Pada akhirnya,tujuan dari
transpersonal caring relationship adalah berkaitan dengan melindungi,
meningkatkan dan mempertahankan martabat ,kemanusiaan,kesatuan dan
keselarasan batin.

F. Caring Occation Moment


Caring Occation Moment (tempat dan waktu) pada saat perawat dan
orang lain datang pada saat human caring dilaksanakan , dan dari keduanya
dengan fenomena tempat yang unik mempunyai kesempatan secara bersama
datang dalam moment interaksi human to human.
Bagi Watson (1988 b, 1999) bidang yang luar biasa yang sesuai dengan
kerangka refensi seseorang atau perasaan-perasaan yang dialami seseorang ,
sensasi tubuh, pikiran atau kepercayaan spiritual , tujuan-tujuan, harapan-
harapan pertimbangan dari lingkungan, arti persepsi seseorang kesemuanya
berdasar pada pengalaman hidup yang dialami seseorang, sekarang atau masa
yang akan datang. Watson (1999) menekankan bahwa perawat dalam hal ini
sebagai care giver juga perlu memahami kesadaran dan kehadiranya dalam
moment merawat dengan pasienya , lebih lanjut dari kedua belah pihak
perawat maupun yang dirawat dapat dipengaruhi oleh perawatan dan tindakan
yang dilakukan keduanya , dengan demikian akan menjadi bagian dari
pengalaman hidupnya sendiri. Caring occation bisa menjadi transpersonal
bilamana memungkinkan adanya semangat dari keduanya (perawat dan
pasien) kemudian adanya kesempatan yang memungkinkan keterbukaan dan
kemampuan kemampuan untuk berkembang". (A.Aziz Alimul Hidayat 2002
hal. 116-117)

9
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Keperawatan sebagai sains tentang human care didasarkam pada asumsi
bahwa human science and human care merupakan domain utama dan
menyatukan tujuan keperawatan. Sebagai human science keperawatan
berupaya mengintegrasikan pengetahuan empiris dengan estetika,
humanities, dan kiat/art (Watson, 1985).
Dalam pandangan keperawatan manusia dilihat sebagai sosok yang utuh.
Karena keutuhan ini maka manusia itu unik, berbeda dari manusia lain.
Manusia juga diyakini sebagai sistem terbuka (openned system), yang
berinteraksi dengan manusia lain dan lingkungannya secara dinamis, dan
berkesinambungan itu semua penting untuk perkembangan personalnya.

B. SARAN
Dengan mengetahui model - model keperawatan yang ada diharapkan
perawat bisa mengetahiu metode mana yang pantas dan harus kita
terapkan dalam keadaan dan situasi tertentu. Jangan sampai salah
mengambil metode karena setiap situasi dan kondisi selalu berubah.

10
DAFTAR PUSTAKA

Alligood, M.R., & Tomey, A.M. 2006. Nursing theory: utilization and
application. Third edition. St. Louis: Mosby Elsevier, Inc.
Alligood, M.R., & Tomey, A.M. (2006). Nursing theory: utilization and
application. Third edition. St. Louis: Mosby Elsevier, Inc.
Hartweg, D.L. 1991. Dorothea Watson: self-care deficit theory. Newbury Park,
California: Sage Publications, Inc.
http://www.google riwayat florence nightingale.com

11

Anda mungkin juga menyukai